Makalah Psikologi Pendidikan Dalam Keragaman Individu

Makalah Psikologi Pendidikan Dalam  Keragaman Individu

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah
Setiap manusia dilahirkan setara meskipun dengan keragaman identitas ang disandang. Setiap individu memiliki hak-hak dasar yang sama melekat pada dirinya sejak dilahirkan atau disebut dengan hak asasi manusia. Kesetaraan dalam derajat kemanusiaan dapat terwujud dalam praktik nyata dengan adanya pranata-pranata sosial.kesetaraan individu melihat individu sebagai manusia yang berderajat sama dengan meniadakan hierarki atau jenjang sosial.
            Dalam pembahasan makalah ini penulis memusatkan kepada keragaman individual, mementukan karakteristik manusia yaitu faktor hereditas atau faktor lingkungan, faktor-faktor yang menentukan perbedaan. Kesetaraan individual melihat individu sebagai manusia yang berderajat sama dengan meniadakan hieraki atau jenjang sosial. Yang menempel pada dirinya berdasarkan atas rasial suku bangsa, kebangsaan ataupun kekayaan atau kekuasaan.
            Disatu sisi diterima sebagai fakta yang dapat memperkaya kehidupan bersama, tetapi disisi lain dianggap sebagai faktor penyulit. Kemajemukan bisa mendatang konflik yang dapat merugikan masyarakat sendiri jika tidak dikelola dengan baik.

1.2 Rumusan Masalah
1.      Apa yang dimaksud dengan keragaman individu?
2.      Apa macam-macam keberagaman individu?
3.      Bagaimana keragaman individual manusia?
4.      Apakah  hakekat individu?
5.      Apakah beragaman individu dalam psikologi pendidikan?



BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Keragaman
hhtp//Aniafitriah.wordpress.com. makalah:  Menurut kamus besar bahasa Indonesia (KBBI) keragaman berasal dari kata ragam artinya: tingkah laku, macam jenis, lagu musik, warna, corak, laras (tata bahasa). Keragaman manusia bukan berarti manusia itu bermacam-macam atau berjenis-jenis seperti halnya binatang dan tumbuhan. Manusia sebagai mahkluk Tuhan tetaplah berjenis satu. Keragaman manusia dimaksudkan bahwa setiap manusia memiliki perbedaan. Perbedaan itu ada karena manusia adalah mahkluk individu yang setiap individu memiliki ciri-ciri khas tersendiri. Perbedaan itu terutama ditinjau dari sifat-sifat pribadi, misalnya sikap, watak, kelakuan, temperamen, dan hasrat.
            Selain mahluk individu manusia, juga mahluk sosial yang membentuk kelompok persekutuan hidup. Tiap kelompok persekutuan hidup manusia juga beragam. Masyarakat sebagai persekutuan berbeda dan beragam karena ada perbedaan. Misalnya, dalam hal ras, suku, agama, budaya, ekonomi, status sosial, jenis kelamin, daerah tempat tinggal dan lain-lain. Hal demikian adalah sebagai unsur-unsur yang membentuk keragaman dalam masyarakat. Keragaman manusia baik dalam tingkat individu dan tingkat masyarakat merupakan tingkat realitas atau kenyataan yang harus dihadapi dan dialami. Keragaman individu maupun sosial adalah impilikasi dari kedudukan manusia, baik sebagai mahluk individu dan mahluk sosial. Sebagai individu berbeda dengan sesorang individu yang lain.
            Keragaman manusia sudah menjadi fakta sosial dan fakta sejarah kehidupan. Keragaman mengandaikan adanya hal-hal yang lebih dari satu, keragaman menunjukkan bahwa keberagaman  yang lebih dari satu itu berbeda-beda, heterogen bahkan tidak bisa disamakan[1].

2.2 Macam-macam keberagaman individu
 http//Aniafitriah, wordppress.com.makalah.Berhadapan dengan peserta didik yang memiliki kecepatan belajar dan memiliki ciri – ciri kebribadian yang positif, guru akan menganggap seolah – olah tidak ada hambatan. Namun ketika berhadan dengan dengan peserta didik yang lambat dlam belajar atau ciri – ciri yang negative, adakalanya guru dibuat frustasi. Ujung – ujungnya  langsung aja akan mennyimpulkan bahwa peserta didiklah yang salah. Peserta didik kurang rajin, bodoh, malas, kurang sungguh – sungguh.
Jika saja guru tersebut dapat memahami tentang keragaman individu, belum tentu akan menarik kesimpulan bahwa peserta didiklah yang salah. Terlebih dahulu mungkin dia kan mempelajari latar belakang sosio – psikologi peserta didiknya, sehingga akan diketahui secara akurat kenapa peserta didik itu lambat dalam belajar, selanjutnya dia berusaha untuk menemukan tindakan apa yang paling mungkin bisa dilakukan agar peserta didik tersebut dapat mengembangkan perilaku dan pribadinya secara optimal.
Secara jelas bahwa manusia pada hakekatnya adalah sama dan sederajat. Perbedaan secara fisik tidak dapat menjadi dasar  munculnya tindakan yang bertujuan meniadakan keberadaan orang lain. Sebab, dengan bertindak meniadakan atau menghancurkan orang lain, sebetulnya pada saat yang sama sedang terjadi pengingkaran terhadap dirinya sendiri sebgai makhuk yang juga berharga. Justru keragaman itu menjadi penanda bahwa seharusnya dalam kehidupan bersama atau sama lain bisa saling melengkapi. Seperti mozaik yang terdiri dari banyak macam kaca dan bisa membentuk sebuah gambar yang bagus., demikian juga keragaman seharusnya saling mengisi untuk membentuk sebuah kehidupan masyarakat yang penuh keindahan dan harmoni.[2]
·         Keragaman individu dalam kecakapan
 Calvin (1993:279-280),Kecakapan individu dibagi menjadi dua bagian yaitu: kecakapan nyata (actual ability) dan kecakapan  potensial (potential ability).
Kecakapan nyata (actual ability) yaitu kecakapan yang diperoleh melalui belajar (achievement atau prestasi), yang dapat segera didemontrasikan dan diuji sekarang.
Misalkan, setelah  selesai mengikuti proses perkuliahan atau kegiatan tatap muka dikelas, pada akhir perkuliahan mahasisiwa diuji oleh dosen tentang materi yang disampaikannya (tes formatif). Ketika mahasiswa menjawab dengan baik tentang pertayaan dosen, maka kemampuan tersebut merupakan atau kecakapan nyata (achievement).
Kecakapan potensial (potential ability) yaitu: aspek kecakapan yang masih terkandung dalam diri individu dan diperoleh dari faktor keturunan (herediter). Kecakapan potensial dapat dibagi kedalam dua bagian yaitu kecakapan dasar umum (intelegensi atau kecerdasan ) dan kecakapan dasar khusus (bakat atau aptitudes).
C.P Chaplin (1975). memberikan pengertian intelegensi  sebagai kemampuan menghadapi dan menyesuaikan diri terhadap situasi baru secara cepat dan efektif.
Thurston (1938) mengemukakan teori “ Primary Mental  Abilities” , bahwa intelegensi merupakan penjelmaan dari kemampuan primer  yaitu :
1.      Kemampuan berbahasa (verbal comprehension)
2.      Kemampuan mengingat (memory)
3.      Kemampuan nalar atau berfikir (reasoning)
4.      Kemampuan bilangan (numerical ability)
5.      Kemampuan menggunakan kata – kata (word fluency)
6.      Kemampuan mengamati dengan cepat dan cermat (perceptual speed)
Dalam hal ini juga intelegensi juga memiliki sejumlah kualitas tertentu sebagai berikut:
1.      Bersifat adaptif artinya dapat digunakan secara fleksibel untuk merespon berbagai situasi dan masalah yang dihadapi.
2.      Berkaitan dengan kemampuan belajar, orang yang inteligen di bidang tertentu dapat memepelajari informasi – informasi dan perilaku – perilaku baru dalam bidang tersebut secara lebih cepat dan lebih mudah dibandingkan orang yang kurang inteligen.
3.      Istilah inteligen juga merujuk pada penggunaaan pengetahuan yang sebelumnya telah dimiliki untuk menganalisis dan memahami situasi – situasi baru secara efektif.
4.      Istilah inteligensi melibatkan interaksi dan kooordinasi yang komplek dari berbagai proses mental.
·         Keragaman individu dalam kepribadian
Scheneider (1964) mengartikan  kepribadian adalah penyesuaian diri,
Penyesuaian diri sebagai suatu proses respon individu baik yang bersifat behavioral maupun mental dalam upaya mengatasi kebutuhan – kebutuhan dari dalam diri, ketegasan emosional, frustasi dan konflik, serta memelihara keseimbangan antara pemenuhan kebutuhan tersebut dengan tuntutan (norma) lingkungan.
Sementara itu, Abin syamsuddin (2003) mengemukakan tentang aspek – aspek kepribadian, yang didalamnya mencangkup


1.      Karakter, yaitu konsekuen tidaknya dalam mematuhi etika perilaku, kosisten tidaknya dalam memegang pendirian atau pendapat.
2.      Temperamen, yaitu disposisi reaktif seorang atau cepat lambatnya mereaksi terhadp ranangan – ransangan yang dari lingkungan.
3.      Sikap, sambutan terhadap objek yng bersifat positif , negative
4.      Stabilitas emosi, yaitu kadar kestabilan reaksi emosional terhadap rangsangan dari lingkungan. Seperti tidaknya tersinggung marah, sedih, atau putus asa.
5.      Responsibitas (tanggung jawab), kesiapan untuk menerima resiko dari tinakan atau perbuatan yang dilakukan. Seperti mau menerima resiko secara wajar, cuci tangan, atau melarikan diri dari resiko yang dihadapi.
6.      Sosiabilitas, yaitu disposisi pribadi yang berkaitan dengan hubungan  interpersonal. Seperti : sifat pribadi yang terbuka atau tertutup dan kemampuan berkomunikasi dengan orang lain.
7.      Kemampuan berbahasa (verbal comprehension)
8.      Kemampuan mengingat  (memory)
9.      Kemampuan nalar atau berfikir (reasoning)
10.  Kemampuan bilangan (numerical ability)
11.  Kemampuan menggunakan kata – kata (word fluency)
12.  Kemampuan mengamati dengan cepat dan cermat (perceptual speed)
13.  Karakter, yaitu konsekuen tidaknya dalam mematuhi etika perilaku, kosisten tidaknya dalam memegang pendirian atau pendapat.
14.  Temperamen, yaitu disposisi reaktif seorang atau cepat lambatnya mereaksi terhadp ranangan – ransangan yang dari lingkungan.
15.  Sikap, sambutan terhadap objek yng bersifat positif , negative
16.  Stabilitas emosi, yaitu kadar kestabilan reaksi emosional terhadap rangsangan dari lingkungan. Seperti tidaknya tersinggung marah, sedih, atau putus asa.
17.  Responsibitas (tanggung jawab), kesiapan untuk menerima resiko dari tinakan atau perbuatan yang dilakukan. Seperti mau menerima resiko secara wajar, cuci tangan, atau melarikan diri dari resiko yang dihadapi.
18.  Bersifat adaptif artinya dapat digunakan secara fleksibel untuk merespon berbagai situasi dan masalah yang dihadapi.
19.  Berkaitan dengan kemampuan belajar, orang yang inteligen di bidang tertentu dapat memepelajari informasi – informasi dan perilaku – perilaku baru dalam bidang tersebut secara lebih cepat dan lebih mudah dibandingkan orang yang kurang inteligen.
20.  Istilah inteligen juga merujuk pada penggunaaan pengetahuan yang sebelumnya telah dimiliki untuk menganalisis dan memahami situasi – situasi baru secara efektif.
21.  Istilah inteligensi melibatkan interaksi dan kooordinasi yang komplek dari berbagai proses mental.
22.  Karakter, yaitu konsekuen tidaknya dalam mematuhi etika perilaku, kosisten tidaknya dalam memegang pendirian atau pendapat.
23.  Temperamen, yaitu disposisi reaktif seorang atau cepat lambatnya mereaksi terhadp ranangan – ransangan yang dari lingkungan.
24.  Sikap, sambutan terhadap objek yng bersifat positif , negative
25.  Stabilitas emosi, yaitu kadar kestabilan reaksi emosional terhadap rangsangan dari lingkungan. Seperti tidaknya tersinggung marah, sedih, atau putus asa.
Responsibitas (tanggung jawab), kesiapan untuk menerima resiko dari tinakan atau perbuatan yang dilakukan. Seperti mau menerima resiko secara wajar, cuci tangan, atau melarikan diri dari resiko yang dihadapi.[3]

2.3  Keragaman Individual Manusia
 Nasution M.A. (2010:71-73).Berhadapan dengan peserta didik yang memiliki kecepatan belajar dan memiliki ciri – ciri kebribadian yang positif, guru akan menganggap seolah – olah tidak ada hambatan. Namun ketika berhadan dengan dengan peserta didik yang lambat dlam belajar atau ciri – ciri yang negative, adakalanya guru dibuat frustasi. Ujung – ujungnya  langsung aja akan mennyimpulkan bahwa peserta didiklah yang salah. Peserta didik kurang rajin, bodoh, malas, kurang sungguh – sungguh.
Jika saja guru tersebut dapat memahami tentang keragaman individu, belum tentu akan menarik kesimpulan bahwa peserta didiklah yang salah. Terlebih dahulu mungkin dia kan mempelajari latar belakang sosio – psikologi peserta didiknya, sehingga akan diketahui secara akurat kenapa peserta didik itu lambat dalam belajar, selanjutnya dia berusaha untuk menemukan tindakan apa yang paling mungkin bisa dilakukan agar peserta didik tersebut dapat mengembangkan perilaku dan pribadinya secara optimal.

Secara jelas bahwa manusia pada hakekatnya adalah sama dan sederajat. Perbedaan secara fisik tidak dapat menjadi dasar  munculnya tindakan yang bertujuan meniadakan keberadaan orang lain. Sebab, dengan bertindak meniadakan atau menghancurkan orang lain, sebetulnya pada saat yang sama sedang terjadi pengingkaran terhadap dirinya sendiri sebgai makhuk yang juga berharga. Justru keragaman itu menjadi penanda bahwa seharusnya dalam kehidupan bersama atau sama lain bisa saling melengkapi. Seperti mozaik yang terdiri dari banyak macam kaca dan bisa membentuk sebuah gambar yang bagus., demikian juga keragaman seharusnya saling mengisi untuk membentuk sebuah kehidupan masyarakat yang penuh keindahan dan harmoni.
·         Keragaman individu dalam kecakapan
Kecakapan individu dibagi menjadi dua bagian yaitu: kecakapan nyata (actual ability) dan kecakapan  potensial (potential ability).
Kecakapan nyata (actual ability) yaitu kecakapan yang diperoleh melalui belajar (achievement atau prestasi), yang dapat segera didemontrasikan dan diuji sekarang.
Misalkan, setelah  selesai mengikuti proses perkuliahan atau kegiatan tatap muka dikelas, pada akhir perkuliahan mahasisiwa diuji oleh dosen tentang materi yang disampaikannya (tes formatif). Ketika mahasiswa menjawab dengan baik tentang pertayaan dosen, maka kemampuan tersebut merupakan atau kecakapan nyata (achievement).
Kecakapan potensial (potential ability) yaitu: aspek kecakapan yang masih terkandung dalam diri individu dan diperoleh dari faktor keturunan (herediter). Kecakapan potensial dapat dibagi kedalam dua bagian yaitu kecakapan dasar umum (intelegensi atau kecerdasan ) dan kecakapan dasar khusus (bakat atau aptitudes).
C.P. Chaplin (1975) memberikan pengertian intelegensi  sebagai kemampuan menghadapi dan menyesuaikan diri terhadap situasi baru secara cepat dan efektif.
Thurston (1938) mengemukakan teori “ Primary Mental  Abilities” , bahwa intelegensi merupakan penjelmaan dari kemampuan primer  yaitu :
Dalam hal ini juga intelegensi juga memiliki sejumlah kualitas tertentu sebagai berikut:
·         Keragaman individu dalam kepribadian
Scheneider (1964) mengartikan  kepribadian adalah penyesuaian diri,
Penyesuaian diri sebagai suatu proses respon individu baik yang bersifat behavioral maupun mental dalam upaya mengatasi kebutuhan – kebutuhan dari dalam diri, ketegasan emosional, frustasi dan konflik, serta memelihara keseimbangan antara pemenuhan kebutuhan tersebut dengan tuntutan (norma) lingkungan.
              Sementara itu, Abin syamsuddin (2003) mengemukakan tentang aspek – aspek kepribadian, yang didalamnya mencangkup: Sosiabilitas, yaitu disposisi pribadi yang berkaitan dengan hubungan  interpersonal. Seperti : sifat pribadi yang terbuka atau tertutup dan kemampuan berkomnikasih dengan orang lain.[4]


2.4 . Hakikat Individu
 http//Aniafitriah,wordpress.com.makalah. Secara etimologi manusia, mahluk dan individu diartikan sebagai:
1.      Manusia berarti mahluk yang berakal budi dan mampu menguasai mahluk lain.
2.      Mahluk yaitu sesuatu yang diciptakan oleh Tuhan.
3.      Individu mengandung arti orang seorang, pribadi, organisme, yang hidupnya berdiri sendiri. Secara fisiologis ia bersifat bebas, tidak mempunyai hubungan organik dengan sesama.
Secara kodrad, manusia merupakan mahluk monodualis. Artinya selain sebagai mahluk individu, manusia berperan sebagai mahluk sosial. Sebagai mahluk individu, manusia merupakan mahluk ciptaan Tuhan yng terdiri dari unsur jasmani (raga) dan rohani (jiwa) yang tidak dapat dipisah-pisahkan. Jiwa dan raga inilah yang membentuk individu. Manusia juga diberi kemampuan (akal, pikiran, perasaan). Sehingga sanggup berdiri sendiri dan bertanggung jawab atas dirinya. Disadari atau tidak manusia senantiasa akan berusaha mengembangkan kemampuan pribadinya guna memenuhi hakikat individualitasnya (dalam memenuhi berbagai kebutuhan hidupnya). Hal terpenting yang membedakan manusia dengan mahluk lainnya adalah bahwa manusia dilengkapi dengan akal dan pikiran, perasaan, dan derajat paling tinggi diantara ciptaan-ciptaan lain.
            Dalam keadaan status manusia sebagai  mahluk individu, segala sesuatu yang menyangkut pribadinya sangat ditentukan oleh dirinya sendiri, sedangkan orang lain lebih banyak berfungsi sebagai pendukung. Kesuksesan seseorang misalnya sangat bergantung kepada niat, semangat, dan usahanya yang disertai dengan doa kepada Tuhan secara pribadi. Demikian juga mengenai baik atau buruknya seseorang dihadapan Tuhan dan dihadapan manusia, itu semua sangat dipengaruhi oleh sikap dan perilaku manusia itu sendiri. Hubungan manusia sebagai individu dengan masyarakatnya terjalin dalam keselarasan,keseimbangan, dan keserasian. Oleh karena itu harkat dan martabat setiap indivu diakui secara penuh dalam mencapai kebahagiaan bersama. Masyarakat merupakan wadah bagi para individu untuk mengadakan interaksi sosial dan interelasi sosial.
Faktor yang mempengaruhi hidup bermasyarakat:
1.      Faktor alamiah atau kodrad Tuhan
2.      Faktor saling memenuhi kebutuhan
3.      Faktor saling ketergantungan.Keberadaan semua faktor tersebut dapat diterima oleh akal sehat seriap manusia, sehingga manusia itu benar-benar bermasyarakat.[5]

2.5  KeberagamanIndividuDalamPsikologiPendidikan
http//Syaikalrahman,wordpress.com.makalah. Keberagaman individu dalam psikologi pendidikan sebagai berikut:
1.      Gejala jiwa
Gejala jiwa dibedakan dalam dua fungsi:
a.       Memasukkan dengan cara tidak sengaja. Dengan cara ini apa yang dialami dengan tidak disengaja dimasukkan dalam ingatan
b.      Memasukkan dengan cara sengaja. Individu sengaja memasukkan pengalaman-pengalaman, pengetahuan kedalalam ingatannya. Terdapat beberapa kemampuan individu untuk memasukkan pesan-pesan kedalam ingatan, ada orang yang dengan cepat, namun ada juga yang lambat dalam memasukkan pesan. Dalam tahap penyimpanan individu mempertahankan dan menyimpan pesan dalam ingatan selama beberapa waktu sampai saatnya ditimbulkan kembali. Karena itu, masalah yang timbul dalam hal ini adalah bagaimana agar pesan yang dimasukkan tersebut dapat disimpan dengan baik, sehingga pada suatu waktu dapat ditimbulkan kembali dengan mudah bila dibutuhkan.

 Perbedaan fisik
Misalnya: gemuk, kurus, tinggi-pendek, warna kulit, bentuk,muka, usia, jenis kelamin, pendengaran, dan penglihatan,
3.      Perbedaan kepribadian
Misalnya: watak, dan sifat.
4.      Perbedaan sosial
      Misalnya: status ekonomi, agama, suku. perbedaan intelegensi/tingkat kecerdasan.[6]




 BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Manusia atau individu adalah mahluk yang dapat dipandang dari berbagai sudut pandang. Individu adalah kata benda dari individual yang berarti orang, perorangan, dan oknum. perbedaan individual secara umum adalah hal-hal yang berkaitan dengan psikologi pribadi yang menjelaskan perbedaan psikologis antara individu serta berbagai persamaannya. Sumber perbedaan individu disebabkan faktor bawaan dan faktor lingkungan.

2    3.2 Implikasi
Bermacam-macam cara telah ditempuh untuk memperhatikan perbedaan individual. Semua metode mencoba memperhatikan perbedaan perbedaan individual dikalangan pelajar. Metode yang dikemukakan kebanyakan berusaha untuk memusatkan kegiatan belajar. Individual bukaan sesuatu yang baru. Para pendidik harus mengakui perbedaan individual walaupun yang didasarkan atas perbedaan individu. Dan pengajaran individual perlu mempunyai potensi yang besar untuk meningkatkan mutu efektivitas dalam kehidupan pendidikan.





DAFTAR PUSTAKA

1. Jeanne Ellis. psikologi pendidikan, Jakarta, Erlangga 2014.
2. http//aniafitriah.wordppress. com. Makalah.
3. Calvin. Teori-teori psikodinamik (klinis),Yogyakarta,Kanisius 1993.
4. Nasution. Belajar dan Mengajar, Jakarta, Bumi Aksara 2010


[1]http//Aniafitriah, wordpress.com.makalah, 26 januari 2016
[2]hhtp//Aniafitriah.wordpress.com, 26 januari 2016.
[3]Calvin. Teori-teoripsikodinamik, Kanisius, Yogyakarta 1993
[4]Nasution.Belajardanmengajar, bumiaksara, Jakarta 2010.
[5]Http//Aniafitriah.wordpress.com.makalah, 26 januari 2016.

[6] http//syaikalrahman, Iwordpress. Makalah, 06 januari 2016.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rencana Pembelajaran Semester Pengembagan Kurikulum PAK II

Profesionalisme Guru Pendidikan Agama Kristen (PAK)