"Makalah tentang Belajar dalam Psikologi Pendidikan”.
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Perubahan
selalu terjadi setiap saat, dimana-mana dan mengenai siapa saja. Dalam
kehidupan, semua orang tidak dapat menghindari perubahan dan manusia pun
mengalami perubahan. Perubahan sering menjadi masalah manusia, berhubungan
dengan kebutuhannya, tetapi manusia mau tidak mau harus menghadapinya agar
kebutuhan terpenuhi.
Cara mengatasi kesulitan karena perubahan
tidak lain dengan belajar. Ada ungkapan manusia tidak akan pernah berhenti
belajar, manusia akan terus belajar sebelum masuk liang kubur dan ungkapan lain
sejenis. Ini berarti bahwa orang awam mengetahui dan mengakui bahwa semua
manusia mengalami peristiwa belajar sepanjang hidupnya. Namun tidak semua orang
mengerti benar tentang apa sebenarnya peristiwa yang disebut belajar. Sementara
itu manusia merupakan makhluk psikologis yang artinya, manusia selaku pelaku
pendidik dan pembelajaran merupakan makhluk sosial individu yang memiliki aspek
pikiran, emosi, dan kehendak yang dapat mempengaruhi perilaku manusia sebagai
cerminan dan perasaannya. Dengan demikian penulis judul tentang “ Belajar dalam Psikologi Pendidikan”.
1.2
RUMUSAN MASALAH
1. Apa pengertian dari belajar dan
psikologi pendidikan?
2.
Apa saja kah yang menjadi penghambat belajar dalam psikologi?
3. Apa pentingnya psikologi pendidikan
dalam belajar ?
1.3
TUJUAN
1. Agar dapat mengetahui pengertian
belajar dan psikologi pendidikan
2. Agar mengetahui apa saja yang menjadi
penghambat belajar dalam psikologi
3. Agar dapat mengetahui pentingnya psikologi pendidikan dalam belajar
BAB
II
PEMBAHASAN
2.1
PENGERTIAN BELAJAR
d Pengertian
belajar secara umum
Belajar merupakan suatu usaha sadar individu untuk
mencapai tujuan peningkatan diri atau perubahan diri melalui latihan-latihan
dan pengulang-pengulangan dan perubahan yang terjadi bukan karena peristiwa
yang kebetulan.
d Pengertian
belajar menurut para ahli
Lyle
E.Bourne, JR Bruce R.Ekstrand berpendapat bahwa belajar diartikan sebagai
proses perubahan tingkah laku di timbulkan atau di ubah melalui latihan atau
pengalaman, Clifford T.Morgan dan Dr. Musthofa Fahmi juga sependapat dengan
Lyle E.Bourne, JR Bruce R.Ekstrand . Sedangkan Guilford berpandapat bahwa
belajar adalah perubahan tingkah laku yang dihasilkan dari hasil rangsangan[1]. Jadi
dengan demikian kesimpulannya bahwa belajar adalah suatu usaha sadar atau
proses perubahan tingkah laku melalui
latihan-latihan melalui sebuah pengalaman .
2.2 PENGERTIAN
PSIKOLOGI PENDIDIKAN
1. Pengertian
psikologi
Istilah
Psikologi diperoleh dari bahasa Yunani, ytaitu psyche yang berarti jiwa dan
logos yang berarti ilmu. Jadi secara harfiah psikologi berarti ilmu jiwa atau
ilmu yang mempelajari tentang gejala-gejala kejiwaan. Menurut Hilgard dan
Atkinson, psikologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari perilaku manusia
dan proses mental( berpikirnya) [2]
2. Pengertian
pendidikan
Sedangkan
pendidikan adalah suatu cara untuk mengembangkan keterampilan, kebiasaan, dan
sikap tyang diharapkan dapat membuat seseorang menjadi warga negara yang baik.Menurut
Ki Hajar Dewantara pendidikan adalah sebagai daya upaya untuk memajukan budi
pekerti, pikiran dan jasmani anak agar dapat memajukan kesempurnaan hidup,
yaitu hidup dan menghidupkan anak yang selaras dengan alam dan masyarakatnya.[3] Jadi
dapat disimpulkan bahwa psikologi pendidikan adalah ilmu yang menerangkan
tentang aktifitas individu dan faktor-faktor yang mempengaruhi dalam proses
pendidikan.[4]
2.3 JENIS-JENIS
BELAJAR
1. Muhamad
Athiyah Al-Abrosyi berpendapat jenis-jenis belajar ada 3 yaitu belajar
pengetahuan, belajar keterampilan, dan belajar hati nurani.
2. Dr.Muhammad
Al-Hadi Afify berpendapat jenis-jenis belajar ada 4, yaitu akal, aklak, fisik
dan sosial.
3. Robert
M, Gagne berpendapat jenis-jenis belajar ada 5 yaitu keterampilan motorik,
sikap, kamahiran intelektual, informasi verbal dan pengetahuan kegiatan
intelektual.
4. Prof,
Dr. Nasution berpendapat jenis-jenis belajar ada 5 yaitu: belajar berdasarkan
pengamatan, belajar berdasarkan gerak, belajar berdasarkan hafalan, belajar
karena masalah dan belajar berdasarkan emosi.
5. Benyamin
S.Bloom dkk merumuskan sasaran pendidikan dengan sebutan “taxonomi of education
objektif” dimana kelompok ini membedakan tiga ranah (domain) atau daerah
sasaran pendidikan yaitu:
a) Ranah
kognitif
b) Ranha
afektif
c) Ranah
psikomotorik[5]
2.4 FAKTOR-FAKTOR
PSIKOLOGI DALAM BELAJAR
v Arden
Frandsen, mengatakan bahwa hal yang mendorong seseorang untuk belajar adalah
sebagai berikut :
o
Adanya sifat ingin tahu dan ingin
menyelidiki dunia yang lebih luas
o
Adanya sifat yang kreatif yang ada pada
manusia dan keinginan untuk selalu maju
o
Adanya keinginan untuk mendapatkan
simpati dari orangtua, guru dan teman-teman.
o
Adanya keinginan untuk memperbaiki
kegagalan yang lalu dengan usaha yang lalu, baik dengan kompetisi.
o
Adanya keinginan untuk mendapatkan rasa
aman bila menguasai pelajaran.
o
Adanya ganjaran atau hukuman sebagai
akhir daripada belajar
v Maslow,
mengemukakan motif-motif untuk belajar itu adalah:
o
Adanya kebutuhan fisik.
o
Adanya kebutuhan akan rasa aman, bebas
dari kekhawatiran.
o
Adanya kebutuhan akan kecintaan dan
penerimaan dalam hubungan dengan orang lain.
o
Adanya kebutuhan untuk mendapat
kehormatan dari masyarakat.
o
Sesuai dengan sifat untuk mengemukakan
atau mengetengahkan diri.
Apa yang telah di kemukakan itu hanyalah sekedar
penyebutan sejumlah kebutuhan-kebutuhan saja, kebutuhan-kebutuhan tersebut
tidaklah lepas satu sama lain, melainkan sebagai suatu keseluruhan atau suatu
kompleks yang mendorong belajarnya anak. Pendidik seberapa dapat haruslah
berusaha mengenal kebutuhan yang mana yang terutama dominan pada anak didiknya.
Selanjutnya suatu pendorong yang biasanya besar
pengaruhnya dalam belajar anak-anak didik adalah cita-cita. Cita-cita merupakan
pusat dari berbagai macam kebutuhan, artinya kebutuhan-kebutuhan biasanya
disentralisasikan disekitar cita-cita itu, sehingga dorongan tersebut mampu
memaksimalkan energi psikis untuk belajar. Oleh karena itu, anak-anak yang
masih sangat muda biasanya belum benar-benar menyadari cita-citanya yang
sebenarnya karena itulah mereka perlu dibuatkan tujuan-tujuan sementara yang
dekat sebagai cita-cita sementara supaya hal ini merupakan motif atau pendorong
yang cukup kuat bagi belajar anak-anak.[6]
2.5 AHLI-AHLI
PSIKOLOG MEMEGANG PERAN UTAMA DALAM MENGUPAS MASALAH BELAJAR
Karena masalah belajar adalah masalah setiap orang
maka jelaslah kiranya bahwa dalam lapangan ini terdapat bermacam-macam sekali
cara pendekatan. Ahli fisiologi, ahli biofisika, ahli pendidikan, pelatih
olahragawan, dan ahli psikologi mempunyai cara pendekatan tersendiri. Walaupun
masalah belajar itu bukan monopolinya ahli psikolgi, namun primer hal tersebut
adalah masalahnya ahli-ahli psikologi. Hal yang demikian itu terjadi karena dua
hal
a.
Pertama adalah karena alasan historis.
Para cendekiawan yang pertama-tama mempersoalkan masalah ini secara mendalam Para
pendidik profesional mempergunakan psikologi pendidikan sebagai ilmu
pengetahuan dasar, dan umumnya juga mengusahakannya dan seharusnya memang
demikian dengan cukup intensive.
b.
Disamping alasan historis terdapat
alasan lain, mungkin dapat kita sebut alasan literer. Konsepsi mengenai belajar
banyak sekali merupakan hal yang sentral dalam banyak teori-teori psikologi.
Memang, bagi seorang ahli psikologi teori belajar itu merupakan hal yang hakiki,
karena bermacam-macam tingkah laku
manusia itu yang oleh si ahli psikologi hendak dipahami adalah hasil belajar .
Dari
uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa sebagian besar teori-teori psikologis
menjadikan masalah belajar itu sebagai hal yang sentral walau kadang-kadang
tidak dinyatakan secara eksklusif. [7]
2.6 HAMBATAN
BELAJAR DALAM PSIKOLOGI
Dari segi psikologis
terdapat beberapa hambatan dalam belajar yaitu :
v Lemahnya
motivasi
v Ketidakstabilan
emosi, sulit menguasai diri sendiri, khususnya dalam relasi dengan orang lain.
v Pengalaman
masa lalu yang mengakibatkan kekecewaan atau frustasi
v Kurangnya
mekanisme pertahanan diri
v Cara
berpikir atau cara belajar tipe lambat atau cepat, tipe teliti atau
tergesa-gesa, tipe perasa dan pemikir.[8]
2.7 PERLU
DAN PENTINGNYA PSIKOLOGI PENDIDIKAN DALAM BELAJAR
Tidak dapat diragukan lagi, bahwa sejak anak manusia
yang pertama lahir ke dunia, telah ada dilakukan usaha –usaha pendidikan manusia telah berusaha mendidik anak-anaknya,
kendatipun dalam cara yang sangat sederhana. Demikian pula semenjak manusia
saling bergaul, telah ada usaha-usaha dari orang-orang yang lebih mampu dalam
hal-hal tertentu untuk mempengaruhi orang-orang lain teman bergaul mereka,
untuk kepentingan kemajuan orang-orang bersangkutan itu. Dari uraian ini
jelaslah kiranya, bahwa masalah pendidikan adalah masalahnya setiap orang dari
dulu hingga sekarang, dan di waktu-waktu yang akan datang, Adalah keharusan
bagi setiap pendidik yang bertanggung jawab, bahwa dia dalam melaksanakan
tugasnya harus berbuat dalam cara yang sesuai dengan keadaan si anak didik.
Psikologi adalah ilmu pengetahuan yang berusaha memahami sesama manusia, dengan
tujuan untuk dapat memperlakukannya dengan lebih tepat. Karena itu pengetahuan
psikologis mengenai anak didik dalam proses pendidikan adalah hal yang perlu dan
penting bagi setiap pendidik, sehingga seharusnya adalah kebutuhan setiap
pendidik untuk memiliki pengetahuan tentang psikologi pendidikan. Mengingat
setiap orang pada sesuatu saat tentu melakukan perbuatan mendidik, maka pada
hakikatnya psikologi pendidikan itu dibutuhkan oleh setiap orang. Kenyataan
bahwa pada dewasa ini hanya para pendidik profesional saja yang mempelajari
psikologi pendidikan tidaklah dapat dipandanag sebagai hal yang memang sudah
selayakanya[9].
BAB
III
PENUTUP
3.1
Kesimpulan
Pada hakikatnya inti
persoalan belajar dalam psikologi
pendidikan terletak pada anak didik sebab pendidikan adalah perlakukan terhadap
anak didik yang secara psikologis kelakuan tersebut harus selaras dengan
keaadaan anak didik. Dengan demikian permasalahan psikologis yang berperan dalam
proses pendidikan anak dapat terjawab apabila pendidik dapat membrikan bantuan
kepada anak didik agar berkembang secara wajar melalui bimbingan dan konseling,
Pemberian bahan pembelajaran yang berstruktur dan berkualitas. kemampuan
tersebut haruslah di miliki oleh seorang pendidik selain itu pendidik juga
harus memahami hukum-hukum psikologis mengenai anak pada umunya.
3.2 Implikasi
DAFTAR PUSTAKA
Mulyati,
2005. Psikologi Belajar.
Yogyakarta:Andi
Sumadi
, Surayabrata.2006. psikologi pendidikan.Jakarta:
Rajawali Pers
Harianto
GP, 2012. Pendidikan agama kristen dalam
alkitab dan dunia pendidikan masa kini. Yogyakarta: Andi
Junihot
, 2016. Psikologi pendidikan agam kristen.
Yogyakarta: Andi
[3] Harianto.Pendidikan agam kristen dalam Alkitab dan dunia pendidikan masa kini.
(Yogyakarta: Penerbit Andi , 2012 )Hal 50
[4] Ibid Hal 2
[7] https://istighfarahmq.wordpress.com.selasa.sembilan.oktober.2018.pukul.11

Komentar
Posting Komentar