Makalah tentang teori belajar dan aplikasinya


BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Belajar merupakan suatu proses perubahan yaitu perubahan tingkah laku sebagai hasil dari interaksi dengan lingkungan dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Belajar merupakan suatu proses yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan perilaku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil dari pengalamannya sendiri dalam interaksi individu dengan lingkungannya.
Pengajar identik dengan pendidikan, proses pengajaran adalah proses pendidikan, setiap kegiatan pengajaran adalah untuk mencapai tujuan pedidikan, pengajaran adalah suatu tujuan untuk mencapai proses aktivitas belajar mengajar yang didalamnya terdapat dua subjek yang saling terlibat, yaitu guru dan peserta didik.
Teori pembelajaran mengungkapkan hubungan antara kegiatan pembelajaran dengan proses psikologi dalam diri siswa, sedangkan teori belajar mengungkapkan hubungan antara kegiatan siswa dengan proses psikologi dalam diri siswa. Teori pembelajaran harus memasukkan variabel metode pembelajaran. Bila tidak, maka teori itu bukanlah teori pembelajaran. Hal ini penting sebab banyak yang terjadi apa yang dianggap sebagai teori pembelajaran yang sebenarnya adalah teori bellajar. Teori pembelajaran selalu menyebutkan metode pembelajaran sedangkan teori belajar sama sekali tidak berurusan dengan metode pembelajaran. Sementara itu, banyak penerapan teori belajar yang tidak sesuai dengan teori pembelajaran yang seharusnya.
1.2  Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, penulis merumuskan beberapa masalah sebagai berikut:
1.      Teori teori apa sajakah yang ada dalam proses pembelajaran?
2.      Apa sajakah yang menjadi aplikasinya?
1.3  Tujuan
Berdasarkan rumusan di atas, maka penulis memiliki tujuan sebagai berikut: mengetahui teori-teori belajar yang sesungguhnya dan aplikasinya. Untuk mengetahui penerapannya teori belajar tersebut dalam proses pembelajaran dilapangan.



BAB II
PEMBAHASAN
2.1  Pengertian Teori Belajar
Menurut Snelbecker, yang dikutip Dahar (1989), mengemukakan teori belajar adalah sekumpulan dalil yang mengikuti aturan-aturan tertentu. Aturan tersbut dalam menguhugkan secara logis dalil satu dengan yang lain dan pada data yang diamati serta digunakan untuk memprediksi dan menjelaskan teori yang dimaksud dalam tulisan adalah teori belajar yang berhubungan dengan pembicaraan psikologi dan akan dihubungkan pula dengan data-data mengenai belajar dan teorinya dipandang dari segi psikologi pula.
2.2  Fungsi Teori Belajar
Fungsi teori belajar yang dipilih, ada dua pemikiran tentang menjaga teori belajar diketengahkan dalam pembahasan, dan fungsi tersebut sebagai berikut:
1.      Untuk mensistematiskan penemuan peristiwa-peristiwa dari pengamatan dan penelitian yang sangat komplek dari pengamatan dan penelitian dari para Ahli yang sangat kompleks dan mungkin tampak berlawanan. Melalui perumusan, komplleksitas dapat disederhanakan dan tidak hanya mengumpulkan fakta-fakta yang kadang berbeda dan berulang. Contohnya, suatu teori menyatakan kebiasaan-kebiasaan yang kompleks merupakan kumpulan sejumlah refleks bersyarat.
2.      Untuk menjelaskan mengapa proses berakibat demikian, peristiwa satu mengapa diikuti yang lain, dan seterusnya. [1]
2.3  Klasifikasi Teori Belajar
2.3.1        Teori Belajar Sebelum Abad Ke-20
1.      Teori Disipli Mental
Belajar berarti mendisiplinkan mental. Misalnya, dalam kegiatan belajar membaca, teori disiplin mentak mengartikan bahwa anak melatih “otot-otot” mentalnya mulai dari menghafal huruf-huruf, kata-kata, kalimat, dan seterusnya.
2.      Teori Perkembangan Alamiah
Belajar baru akan terjadu dan mendatangkan hasil bila anak telah benar-benar merasakan kebutuhan untuk belajar. Saat utu, ia akan melakukannya dengan penuh kegembiraan sehingga pengalaman akan melekat sebagai kecakapan atau keterammpilan. Misalnya, ia belajar membaca  karena membutuhkan untuk mengetahui isi “pengetahuan” dalam tulisan dan belajar berhitung karena ingin tahu cara memecahkan sesuatu masalah secara aritmatis.
3.      Teori Apersepsi
Belajar adalah suatu proses terasosiasinya gagasan-gagasan yang sudah terbentuk di alam pikiran. Misalnya, anak akan mempelajari kata “kuda”. Ia diperlihatkan gambar kuda diatas tulisan kuda. Kemudian, ia menganalisis huruf per huruf. Demikian sebaliknya, ia dapat menggabungkan huruf-huruf yang dikenal ke dalam kata-kata baru, kalimat, dan seterusnya.
2.3.2        Teori Belajar Abad ke-20
a.      Teori Koneksionisme (Thorndike)
Prinsip pertama teori koneksionisme adallah belajar suatu kegiatan membentuk asosiasi (connection) antara kesan panca indera dengan kecenderungan bertindak. Misalnya, jika anak merasa senang atau tertarik pada kegiatan jahit-menjahit, maka ia akan cederung mengerjakannya.
b.      Teori Clasiccal Conditioning (pavlov)
Pavlov membuat teori berdasarkan pada eksperimennya yang terkenal tentang berfungsinya kelenjar ludah pada anjing. Kemudian, ia menyimpulkan bahwa tingkah laku tertentu dapat dibentuk dengan cara diulang-ulang.
c.       Teori Operant Conditioning (Skinner)
Teori Operant Conditioning memiliki persamaan dengan teori Pavlov dan Watson, tetapi lebih terperinci. Ia membedakan adanya dua macam respon.
1.      Teori Gestalt
Teori gestalt aawalnya dikembangkan di bidang persepsi penglihatan, yakni:
1.      Apabila mengamati sekelompokobjek, orang akan mengatur kesan pengamatannya sedemikia rupa sehingga pengelompokan objek mempunyai arti tertentu baginya.
2.      Apabila mengamati objek, orang pun cenderung mengamati hal-hal sama secara gestalt.
3.      Hal-hal yang saling berdekatan cenderung diamati secara bulat.
4.      Hal-hal yang diamati dalam bentuktertutup cenderung memberi kesan gestalt.
5.      Objek pengamatan yang mempunyai kaitan kontinuitas cenderung membentuk membentuk kesan geslalt.
2.      Teori Medan (Kurt Lewin)
Pada dasarnya, teori lewis dapat dikatakan sebagai perluasan teori gestalt, yaitu:
a.       Belajar adalah pengubahan struktur kognitif .
b.      Hadiah dan hukuman
c.       Faktor motivasi belajar lain
a.      Teori Belajar Behavioristik
Teori behavioristik dengan model hubungan stimulus responnya, yang mendukung orang belajar sebagai individu yang pasif. Respons atau perilaku tertentu dengan menggunakan metode real atau pembiasaan semata. Munculnya perilaku akan semakin kuat biladiberikan reinfforcement, dan akan menghilangkan bila dikenai hukuman. teori ini memandang bahwa sebagai sesuatu yang ada di dunia nyata telah terstruktur rapi dan teratur, maka siswa yang belajar haruss dihadapkan pada aturan-aturan yang ditetapkan. Pembiasaan dan disiplin menjadi sangat esensial dalam belajar, sehingga pembelajaran lebih banyak dikaitkan dengan penegakan disiplin. Kegagalan atau keridak mampuan dikategorikan sebagai kesalahan perlu hukum dan keberhasilan belajar atau kemampuan dikategorikan sebagai perilaku yang pantas diberi hadiah,
b.      Teori Kognitif
Pengertian belajar menurut teori kognitif adalah perubahan persepsi dan pemahaman yang tidak selalu berbentuk tingkah laku yang dapat diamati dan dapat diukur. Asumsi teori ini adalah bahwa setiap orang telah memiliki pengetahuan dan pengalaman yang telah tertata dalam bentuk struktur kognitif yang dimilikinya. Proses beajaar akan berjalan dengan baik jika materi pelajaran atau informasi baru beradaptasi dengan struktur kognitif yang sudah dimiliki seseorang. Teori ini berpendapat bahwa belajar tidak sekedar melibatkan hubungan antara stimulus dan respon, lebih dari itu belajar dianggap melibatkan proses berpikir yang sangat kompleks. Teori belajar kognitif lebih menekan arti penting proses internal mental manusia. Dan menjadi aplikasinya guru wajib mengutamakan peran siswa supaya mereka aktif dalam kegiatan belajar dan saling berinteraksi.  Menurut teori ini, proses belajar akan berjalan baik bila materi pelajaran yang baru diadaptasi dengan struktur kognitif yang telah dimiliki oleh siswa. Implikasi teori ini dalam pembelajaran mengharuskan guru untuk memusatkan perhatian pada cara berpikir atau proses mentalanak, tidak sekedar hasilnya.Guru harus memaklumi adanya perbedaan individual dalam hal kemajuan perkembangan. [2]
c.       Teori Belajar Humanistik
Penerapan teori humanistik lebih menujukkan pada roh atau spirit selama proses pembelajaran yang mewarnai motede-metode yang diterapkan. Peran guru dalam pembelajaran humanistik adalah menjadi fasilisator bagi para siswa sedangkan guru memberi motivasi, kesadaran mengenai makna belajar dalam kehidupan siswa. Guru memfasiliasi pengalaman belajar kepada siswa dan mendampingi siswa untuk memperoleh tujuan pembelajaran. Siswa berperan sebagai pelaku utama (student center) yang memaknai proses pengalaman belajarnya sendiri. Diharapkan siswa memahami potensi diri, menghubungkan potensi dirinya secara positif dan meminimalkan potensi diri yang bersifat negatif.
Pembelajaran berdasarkan teori humanistik ini cocok untuk diterapkan pada materi-materi pembelajaran yang bersifat pembentukan kepribadian, hati nurani, perubahan sikap, dan analisis terhadap fenomena sosial. Indikator dari keberhasilan aplikasi ini adalah siswa merasa senang bergairah, berinisiatif dalam belajar dan terjadi perubahan pola pikir, prilaku dan sikap atas kemauan sendiri. Siswa diharapkan menjadi manusia yang bebas, berani, tidak terikat oleh pendapat orang lain dan mengatur pribadinya sendiri secara bertanggungjawab tanpa mengurangi hak-hak orang lain atau melanggar aturan, norma, disiplin atau etika yang berlaku.
BAB III
PENUTUP
3.1  Kesimpulan
Tiap teori belajar berbeda karena berlatar belakang dasar padanganpakar psikologi sebelum teori belajar dihasilkan. Namun demikian, tiap teori merupakan bagian kesuluruhan penegertian tentang belajar sehingga perlu dicermati dan dipelajari sehingga mempermudah dalam melaksanakanya.

      3.2  Implikasi
Dalam teori ini dapat menjadi implikasi dengan mengetahui berbagai teori belajar diharapkan pendidikan di indonesi dapat terus dievaluasi sehingga dapat mencapai tujuan pendidikan yang ditentukan oleh pemerintah dengan baik dan berjalannya komunikasi yang baik



DAFTAR PUSTAKA
Prof.Dr. Bimo Walgito, Psikologi Sosial suatu pengantar, penerbit andi, yogyakarta, 2003
Tim dosen, teori belajar dan penerapannya dalam pak,tarutung, 2017
Dr.Mulyati Psikologi Belajar, penerbit andi, yogyakarta, 2005



[1]Dr.Mulyati. Psikologi belajar. (Jakarta:penerbit Andi, 20016) hal 7
[2] Tim dosen, teori belajar dan penerapannya dalam Pak,(Tarutung: 2014) hal 94

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rencana Pembelajaran Semester Pengembagan Kurikulum PAK II

Profesionalisme Guru Pendidikan Agama Kristen (PAK)