Pendekatan Makalah Psikologi Pendidikan Dan Penyandang Disabilitas Beserta Pengertian SLB

KATA PENGANTAR

             Puji syukur Kami panjatkan kepada Tuhan yang Maha Esa karena atas segala limpahan rahmatnya lah kelompok kami akhirnya  mampu menyelesaikan penelitian kami dan tugas makalah yang sederhana  ini sesuai dengan waktu yang telah ditentukan.

             Kami dapat menyadari bahwa apa yang kami sajikan dalam makalah ini masih kurang sempurna karena kemampuan pengetahuan yang kami miliki masih terbatas . Disamping itu kelompok kami mengharapkan agar  Bapak Andrianus Nababan dosen mata kuliah Psikologi Pendidikan dan Teman-teman Semua sudi kiranya memberikan kritik dan saran yang membangun untuk memperbaiki karya tulis kami ini agar lebih baik.
            Akhir kata kelompok kami ucapkan Trimah Kasih.





                                                                                    Tarutung, Desember 2018


                                                                                                Penulis







BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Penyandang disabilitas memiliki kedudukan, hak dan kewajiban yang sama dengan orang-orang non-disabilitas. Sebagai bagian dari warga Negara indonesia, sudah sepantasnya penyandang disabilitas mendapatkan perlakuan yang khusus, yang di maksudkan sebagai upaya perlindungan dari berbagai pelanggaran hak asasi manusia. Perlakuan khusus tersebut dipandang sebagai upaya maksimalisasi penghormatan, pemajuan, perlindungan dan pemenuhan hak asasi manusia universal.

Penyandang disabilitas merupakan kelompok masyarakat yang beragam, diantaranya penyandang disabilias yang mengalami disabilitas fisik, disabilitas mental, maupun gabungan dari disabilitas fisik dan mental. Kondisi penyandang disabilitas tersebut mungkin hanya sedikit berdampak pada kemampuan untuk berpartisipasi ditengah masyarakat, atau bahkan berdampak besar sehingga memerlukan dukungan dan bantuan dari orang lain. Selain itu, penyandang disabilitas mengahdapi kesulitan yang lebih besar dibandingkan masyarakat non-disabilias dikarenakan hambatan dalam mengakses layanan umum,seperti akses dalam layanan pendidikan, kesehatan, maupun dalam hal ketenaga kerjaan.

Pada penelitian ini, ada empat penyandang disabilitas yang terdapat di SLB Siborongborong. Adapun keempat disabilitas yaitu: Tuna rungu, Tuna grahita, Tuna daksa dan Autis.  Sebagaimana dalam proses pembelajaran, penyandang disabilitas sangat memerlukan metode pembelajaran yang khusus agar dapat mempermudah mereka dalam proses pembelajaran dan pembentukkan fisik (pemulihan) dari disabilitas yang dimiliki setiap siswa.

1.2  Rumusan Masalah
1.2.1        Apa Yang Dimaksud Dengan Pendekatan Psikologi Pendidikan Dan Penyandang Disabilitas Beserta Pengertian SLB?
1.2.2       
                     Bagaimana Cara Meningkatkan Belajar Pada SLB?
1.2.3        Apakah Metode Pembelajaran Yang Digunakan Dalam Proses Pembelajaran Pada SLB?

1.3  Tujuan Penelitian
Melalui penelitian ini, kita dapat mengetahui bagaimana kelemahan bahkan kelebihan dari setiap siswa penyandang disabilitas. Kita juga mengetahui peran guru dan orang tua dalam mengembangkan minat dan bakat anak di SLB Siborongborong, kita juga mengetahui bagaimana kita harus bersikap dalam menghadapi anak didik di SLB Siborongborong, kita juga mulai belajar mengetahui bagaimana reaksi serta tanggapan anak didik ketika kita melakukan pendekatan dan komunikasi terhadap anak didik tersebut, serta banyak hal yang tanpa kita sadari terjadi begitu saja yang jauh berbeda dengan orang-orang non-disabilitas.



BAB II
HASIL DAN PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Pendekatan Psikologi Pendidikan Dan Penyandang Disabilitas Beserta Pengertian SLB

A.    Pendekatan      
        Pendekatan adalah proses pembuatan, cara mendekati, usaha dalam rangka aktvitas untuk mengadakan hubungan dengan orang tertentu. Pendekatan juga dapat diartikan sebagai cara pandang atau paradigma yang terdapat dalam suatu bidang ilmu.

B.     Psikologi Pendidikan
            Psikologi merupakan ilmu pengetahuan mengenai jiwa yang diperoleh secara sistematis dengan menggunakan metode-metode ilmiah, sedangkan ilmu jiwa merupakan keseluruhan spekulasi jiwa secara umum. Pengertian lagi, psikologi merupakan istilah dalam ilmu pengetahuan sedangkan ilmu jiwa merupakan istilah bahasa Indonesia sehari-hari.

Menurut H.C. Whitherrington,psikologi pendidikan ialah suatu studi yang sistmatis tentang proses-proses dan faktor-faktor yang berhubungan dengan pendidikan manusia.
Jadi, psikologi pendidikan adalah ilmu yang menerangkan tentang aktivitas individu dan faktor-faktor yang mempengaruhi dalam proses pendidikan.

C.    Penyandang Disabilitas
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia1 penyandang diartikan dengan orang yang menyandang (menderita) sesuatu. Sedangkan disabilitas merupakan kata bahasa Indonesia yang berasal dari kata serapan bahasa Inggris disability (jamak: disabilities) yang berarti cacat atau ketidakmampuan.
Disabilitas yaitu orang yang memiliki kekurangan atau keterbatasan fisik, intelektual maupun sensorik yang dialami dalam jangka waktu lama. Ketika penyandang disabilitas berhadapan dengan hambatan maka hal itu akan menyulitkan mereka dalam berpartisipasi penuh dan efektif dalam kehidupan bermasyarakat berdasarkan kesamaan hak.

D.    Pengertian Sekolah Luar Biasa
Tempat penyelenggaraan pendidikan dibagi menjadi tiga lingkungan yaitu formal, informal dan non formal. Sekolah Luar Biasa adalah sebuah lembaga pendidikan formal yang melayani pendidikan bagi anak-anak berkebutuhan khusus. Sebagai lembaga pendidikan SLB dibentuk oleh banyak unsur yang diarahkan untuk mencapai tujuan pendidikan, yang  proses intinya adalah pembelajaran bagi peserta didik.

Syafaruddin (2002 :87)  mengemukakan bahwa: “Dalam system pendidikan nasional Indonesia sekolah memiliki peranan strategis sebagai institusi penyelenggra kegiatan pendidikan.” Oleh  karena itu,  jelaslah bahwa Sekolah Luar Biasa memiliki dan mengemban tugas yang berat tetapi penting.  Berat karena harus selalu berperang menghadapi berbagai kelemahan, ancaman dan tantangan guna menselaraskan program-program kegiatan yang terealisir dengan dinamika perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) yang bergerak demikian cepat. Penting, karena tugas-tugas dan fungsi sekolah sangat diperlukan untuk mengembangkan potensi anak-anak berkebutuhan khusus demi kelangsungan hidupnya yang harus

Dalam upaya meningkatkan mutu layanan pendidikan di  Sekolah Luar Biasa tidak dapat terlepas dan harus didukung oleh berbagai pihak yang berkepentingan (stakeholders) diantaranya  pihak masyarakat. Hal ini penting karena masyarakat memiliki peran yang sangat diperlukan oleh sekolah. Mengenai hal ini diungkapkan dalam UU Sisdiknas tahun 2003 (Hadiyanto, 2004 : 85) sebagai berikut: 1) Masyarakat berperan dalam peningkatan mutu pelayanan pendidikan yang meliputi perencanaan, pengawasan, dan evaluasi program pendidikan melalui dewan pendidikan dan komite sekolah/madrasah. 2) Komite sekolah/madrasah sebagai lembaga mandiri dibentuk dan berperan dalam peningkatan mutu pelayanan  dan memberikan pertimbangan, arahan dan dukungan tenaga, sarana dan prasarana serta pengawasan pendidikan pada tingkat satuan pendidikan.

Peranan-peranan itulah yang diperlukan dari pihak masyarakat guna meningkatkan mutu layanan penidikan di sekolah. Diperoleh beberapa keuntungan dengan adanya partisipasi masyarakat. Dikemukakan oleh Aan Komariah dan Cepi Tritna (2006:5) bahwa: “Keputusan tentang bagaimana berlangsungnya sekolah yang didasarkan atas partisipasi diharapkan akan dapat menumbuhkan rasa memiliki bagi semua kelompok kepentingan sekolah.” Dengan adanya rasa memiliki maka akan tumbuh rasa tanggung jawab terhadap pengembangan sekolah.

E.     Tujuan Sekolah Luar Biasa
1.  SDLB dan SMPLB  bertujuan untuk :
”Meletakkan dasar kecerdasan , pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta  keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut.”
2.  SMALB bertujuan untuk :
”Meningkatkan kecerdasan , pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan   untuk hidup mandiri dan dan mengikuti pendidikan lebih lanjut.”

F.     Fungsi   Sekolah Luar Biasa
Mukhlison (22 Desember 2008 : Tersedia : http://www.balinter.net) mengemukakan bahwa : Fungsi sekolah adalah : 1. Sekolah mempersiapkan anak untuk suatu pekerjaan, dan diharapkan anak yang telah menyelesaikan sekolahnya dapat melakukan sesuatu pekerjaan atau paling tidak sebagai dasar dalam mencari pekerjaan. 2. Sekolah memberikan keterampilan dasar. 3. Sekolah membuka kesempatan untuk memperbaiki nasib. 4. Sekolah menyediakan tenaga pembangunan. 5. Sekolah membentuk manusia sosial. Kedua pendapat di atas pada dasarnya sama dan saling melengkapi tentang fungsi sekolah dalam dunia pendidikan.

Sejalan dengan pendapat para ahli tersebut di atas maka Sekolah Luar Biasa sebagai lembaga pendidikan memiliki fungsi sebagai berikut :
1. Tempat pembelajaran bagi anak-anak berkebutuhan khusus yang memberikan dasar-dasar pengetahuan, sikap, dan keterampilan.
2. Memberikan rehabilitasi bagi anak-anak yang memiliki hambatan baik fisik, mental, emosi,  maupun sosial.
3. Mengembangkan life skill bagi anak-anak berkebutuhan khusus sebagai bekal untuk dapat mandiri dalam kehidupannya bermasyarakat.
4. Membentuk anak-anak yang berbudaya dan menjadi warganegara yang  sadar akan hak dan kewajibannya.

           Demikian pentingnya fungsi sekolah bagi kelangsungan kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara,  yang pada akhirnya tertuju pada kesejahteraan manusia. Oleh karena itulah, pengembangan Sekolah Luar Biasa semestinya mendapat suatu perhatian yang semakin bermutu dengan terobosan-terobosan upaya  yang tidak pernah berhenti dilakukan oleh semua pihak. Pelaksanaan evaluasi pun  semestinya tidak dilupakan karena maju mundurnya pengembangan sekolah akan signifikan dengan upaya-upaya perbaikan yang selalu dilakukan sebagai tindak lanjut dari  hasil evaluasi.

G.    Strategi Efektif Pengembangan SLB
Ada lima hal yang sangat dominant sebagai strategi efektif untuk mengembangkan SLB yaitu :

1. Kurikulum
Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan,isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu (Panduan Penembangan KTSP Pendidikan Khusus, 2007 :1). Pengertian tersebut menunjukkan bahwa pada dasarnya setiap peraktek pendidikan diarahkan untuk mencapai tujuan, baik yang berkenaan dengan pengetahuan, sikap, maupun keterampilan (kognitif,afektif,dan psikomotor). Kurikulum ini merupakan ciri atau syarat mutlak adanya suatu sekolah. Berhasil atau tidaknya suatu sekolah salah satunya akan ditentukan oleh kurikulum yang telah disusun. Oleh karena itu dalam pengembangan kurikulum (Nana Syaodih Sukmadinata, 1997 : 151) hendaknya memperhatikan beberapa faktor yaitu relevansi, fleksibilitas, kontinuitas, praktis, dan efektivitas. Relevansi maksudnya bahwa tujuan, isi, dan proses belajar yang tercakup dalam kurikulum harus relevan dengan tuntutan, kebutuhan, dan perkembangan masyarakat. Kedua yaitu factor fleksibilitas, ini perlu diperhatikan untuk menyesuaikan  dengan kondisi yang ada seperti kondisi daerah, latar belakang siswa, dan potensi siswa, serta perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Ketiga adalah kontinuitas, yaitu kesinambungan. Perkembangan dan proses pembelajaran siswa berlangsung secara berkesinambungan anatara satu tingkat kelas dengan kelas selanjutnya, antara satu jenjang pendidikan dengan jenjang pendidikan  berikutnya, dan juga antara jenjang pendidikan dengan dunia kerja. Keempat yaitu praktis, artinya bahwa kurikulum itu mudah dilaksanakan, karena betapa pun idealnya suatu kurikulum kalau sulit untuk dilaksanakan maka sudah barang tentu kurikulum tersebut tidak akan sampai pada tujuan yang diharapkan. Itulah sebabnya, di samping kurikulum itu harus ideal juga harus praktis. Kelima yaitu efektivitas, maksudnya walaupun kurikulum itu harus praktis dan efesien tetapi faktor keberhasilan harus tetap diprioritaskan.

           Pengembangan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan hendaknya berdasarkan pada beberapa prinsip sebagai berikut (Panduan Penembangan KTSP Pendidikan Khusus, 2007 :3) :
  1. Berpusat pada potensi, perkembangan, kebutuhan, dan kepentingan peserta didik dan lingkungannya.
  2. Beragam dan terpadu, yaitu memperhatikan keragaman karakteristik peserta didik, kondisi daerah, jenjang dan jenis pendidikan.
  3. Tanggap terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni.
  4. Relevan dengan kebutuhan kehidupan, untuk itu pengembangannya melibatkan stakeholders sehingga terjamin relevansi pendidikan dengan kebutuhan kehidupan.
  5. Menyeluruh dan berkesinambungan, yaitu mencakup keseluruhan dimensi kompetensi, bidang kajian keilmuan dan mata pelajaran yang direncanakan dan disajikan secara berkesinambungan.
  6. Belajar sepanjang hayat, yaitu bahwa kurikulum diarahkan pada proses pengembangan, pembudayaan, dan pemberdayaan peserta didik yang berlangsung sepanjang hayat.
  7. Seimbang antara kepentingan nasional dan kepetingan daerah.
Dengan memperhatikan beberapa ketentuan dan prinsip-prinsip dalam pengembangan kurikulum sebagaimana diuraikan di atas, yang terpenting dalam pelaksanaannya di Sekolah Luar Biasa hendaknya memperhatikan tingkat relevansi dengan kebutuhan dan potensi siswa, serta penentuan materi yang tidak terlalu melebar tetapi sangat intensip.

2. Kebijakan Sekolah
Kebijakan Sekolah merupakan hasil kesepakatan bersama semua stakeholders pendidikan di lingkungan sekolah yang berkenaan dengan tata aturan dalam melaksanakan proses pembelajaran maupun segala hal yang diperlukan untuk mendukung keberhasilan sekolah dalam menjalankan fungsinya. Tanpa adanya kesepakatan atau kebijakan sekolah maka pelaksanaan pendidikan di sekolah tidak akan berjalan sebagaimana mestinya.

3. Profesionalisme Ketenagaan
Selain tenaga pendidik di SLB semestinya juga memiliki tenaga kependidikan sebagaimana dijelaskan dalam pasal 35 butir PP 19 Tahun 2005 (Citra Umbara, 2006 : 191) sebagai berikut : SDLB, SMPLB, SMALB atau bentuk lain yan sederajat sekurang-kurangnya terdiri atas kepala sekolah, tenaga administrasi, tenaga perpustakaan, tenaga laboratorium, tenaga kebersihan sekolah, teknisi sumber belajar, psikolog, pekerja sosial, dan terapis.

4. Sarana Prasarana
Sebagai kelengkapan untuk dapat berjalannya suatu program dengan baik tidak terlepas dari ketersediaan sarana dan prasarana, tentunya dengan segala keriterianya  sesuai dengan kebutuhan. Jadi, apabila SLB ingin berkembang secara optimal sesuai dengan harapan dan kebutuhan masyarakat maka unsur sarana dan prasarananya juga merupakan hal yang mutlak diperlukan.  Hal tersebut sesuai dengan  PP 19 pasal 42 (Citra Umbara, 2006 : 196) yang menegaskan sebagai berikut :
(1) Setiap satuan pendidikan wajib memiliki sarana yan meliputi perabot, peralatan pendidikan, media pendidikan, buku dan sumber belajar lainnya, bahan habis pakai, serta perlengakapan lain yang diperlukan untuk menunjang proses pembelajaran yang teratur dan berkelanjutan.
(2) Setiap satuan pendidikan wajib memiliki prasarana yang meliputi lahan, ruang kelas, ruang pimpinan satuan pendidikan, ruang pendidik, ruang tata usaha, ruang perpustakaan, ruang laboratorium, ruang bengkel kerja, ruang unit produksi, ruang kantin, instalasi daya dan jasa, tempat berolah raga, tempat beribadah, tempat bermain, tempat berkreasi, dan ruang/tempat lain yang diperlukan untuk menunjang proses pembelajaran yang teratur dan berkelanjutan.

H.      Mengelola Perubahan di Sekolah


2.1 Peningkatan Proses Pembelajaran di SLB
Dalam proses pembelajaran penyandang disabilitas memiliki kesulitan dalam belajar berbeda dengan orang non-disabilitas. Sehingga dibutuhkan metode belajar yang khusus sesuai dengan disabilitas yang dimiliki oleh anak didik.

Adapun jenis-jenis penyandang disabilitas dan peningkatan pembelajarannya:
A.      Sekolah Luar Biasa Tipe A (TUNA NETRA)
            Tunanetra adalah gangguan daya penglihatan, berupa kebutaan menyeluruh atau sebagian dan walaupun telah diberi pertolongan dengan alat-alat bantu khusus, mereka masih tetap memerlukan pendidikan khusus.

STRATEGI PEMBELAJARAN TUNANETRA
            Permasalahan strategi pembelajaran dalam pendidikan anak tunanetra didasarkan pada dua pemikiran, yaitu :
1.      Upaya memodifikasi lingkungan agar sesuai dengan kondisi anak (di satu sisi)
2.      Upaya pemanfaatan secara optimal indera-indera yang masih berfungsi, untuk mengimbangi kelemahan yang disebabkan hilangnya fungsi penglihatan (di sisi lain)
            Stategi pembelajaran dalam pendidikan anak tunanetra pada hakekatnya adalah strategi pembelajaran yang diterapkan dalam kerangka dua pemikiran di atas. Pertama-tama guru harus menguasai karakteristik/strategi pembelajaran yang umum pada anak-anak awas, meliputi tujuan, materi, alat, cara, lingkungan, dan aspek-aspek lainnya. Langkah berikutnya adalah menganalisis komponen-komponen mana saja yang perlu atau tidak perlu dirubah/dimodifikasi dan bagaimana serta sejauh mana modifikasi itu dilakukan jika perlu. Pada tahap berikutnya, pemanfaatan indera yang masih berfungsi secara optimal dan terpadu dalam praktek/proses pembelajaran memegang peran yang sangat penting dalam menentukan keberhasilan belajar.
B.       Sekolah Luar Biasa Tipe B (TUNA RUNGU)
MEDIA PEMBELAJARAN UNTUK ANAK TUNA RUNGU
            Anak Tuna Rungu memiliki keterbatasan dalam berbicara dan mendengar, media pembelajaran yang cocok untuk Anak Tuna Rungu adalah media visual dan cara menerangkannya dengan bahasa bibir/gerak bibir.
1.      Media Stimulasi Visual :
a.       Cermin artikulasi, yang digunakan untuk mengembangkan feedback visual, dengan melihat/mengontrol gerakan organ artikulasi diri siswa itu sendiri, maupun dengan menyamakan gerakan/posisi organ artikulasi dirinya dengan organ artikulasi guru
b.      Gambar, baik gambar lepas mupun gambar kolektif
2.      Media Stimulasi Auditoris :
a.       Speech trainer, yang merupakan alat elektronik untuk melatih bicara anak dengan hambatan sensori pendengaran
b.      Alat musik, seperti drum, gong, piano/organ/ harmonica, rebana, terompet, dan sebagainya
c.       Tape recorder untuk memperdengarkan rekaman bunyi-bunyi latar belakang seperti : deru mobil, deru motor, bunyi klakson mobil maupun motor, gonggongan anjing dsb
            Di lapangan media yang digunakan misalnya dalam mata pelajaran matematika dengan tema juga menuliskannya di papan tulis agar anak dapat lebih memahami apa yang guru jelaskan. Dalam pembelajaran IPA, PKN, guru juga mempergunakan gambar. Dalam pembelajaran IPS pun demikian, menggunakan media gambar dalam materi kenampakan dari permukaan bumi dari gambar tersebut, guru menjelaskan kepada anak sehingga anak dapat memahami bagaimana bentuk dari permukaan bumi tersebut.
C.      Sekolah Luar biasa Tipe C (TUNA GRAHITA)
KLASIFIKASI STRATEGI PEMBELAJRAN BAGI ANAK TUNA GRAHITA
            Anak tunagrahita secara nyata mengalami hambatan dan keterbelakangan perkembangan mental, intelektual jauh dibawah rata-rata sehingga mengalami kesulitan dalam tugas-tugas akademik. Komunikasi maupun sosial, sehingga memerlukan layanan pendidikan kebutuhan khusus.
Adapun strategi pembelajaran yang didapat diberikan kepada anak tunagrahita yaitu :
1.      Direct Introduction
Merupakan metode pengajaran yang menggunakan pendekatan selangkah-selangkah yang terstruktur denga cermat dalam memberikan instruksi atau perintah.
2.      Cooperative Learning
Pembelajaran kooperatif merujuk pada berbagai macam metode pengajaran dimana para siswa bekerja dalam kelompok-kelompok kecil untuk membantu satu sama lainnya dalam memahami materi pembelajaran.
3.      Peer Tutorial
Merupakan metode pembelajaran dimana seorang siswa dipasangkan dengan temannya, yang mengalami kesulitan/hambatan. Oleh karenaitu lebih ditekankan pada siswa yang mempunyai kemampuan dibawah  kemampuannya
D.      Sekolah Luar Biasa Tipe D (TUNA DAKSA)
            Tuna daksa adalah individu yang memiliki gangguan gerak yan g disebabkan oleh kelainan neoromuskular dan struktur tulang yang bersifat bawaan, sakit atau akibat kecelakaan, termasuk celebral palsy, amputasi, polio dan lumpuh. Tingkat gangguan pada tunadaksa adalah ringan yaitu memiliki keterbatasan dalam melakukan aktivitas fisik tetap masih dapat ditingkatkan melalui terapi, sedang yaitu memiliki keterbatasan motorik dan mengalami gangguan koordinasi sensorik, berat yaitu memiliki keterbatasan total dalam gerakan fisik dan tidak mampu mengontrol gerakan fisik
STRATEGI PEMBELAJARAN BAGI ANAK TUNADAKSA
            Strategi yang bisa diterapkan bagi anak tunadaksa yaitu melalui pengorganisasian tempat pendidikan, sebagai berikut.
1.      Pendidikan integrasi (terpadu)
2.      Pendidikan segresi (terpisah)
3.      Pendidikan lingkungan belajar
Media Pembelajaran Untuk Anak Tuna Daksa
            Anak Tuna Daksa dari segi mental dan otaknya normal, hanya saja mereka memiliki keterbatasan fisik sehingga memerlukan layanan khusus dan alat bantu gerak, agar mereka bisa melakukan aktifitas sehari-hari tanpa adanya bantuan dari orang lain. Media pembelajaran yang digunakan untuk anak tuna daksa sama dengan anak-anak normal lainnya, hanya saja disesuaikan dengan materi dan kecacatan bagian yang mana dialami oleh anak. Agar terciptanya proses belajar mengajar yang kondusif.
E.       Sekolah Luar Biasa Tipe E (TUNA LARAS)
            Tunalaras adalah individu yang mengalami hambatan dalam mengendalikan emosi dan kontrol sosial individu, tunalaras biasanya menunjukkan perilaku menyimpang yang tidak sesuai dengan norma dan aturan yang berlaku disekitarnya. Tunalaras dapat disebabkan karena faktor internal dan faktor eksternal yaitu pengaruh dari lingkungan sekitar.
STRATEGI PEMBELAJARAN BAGI ANAK TUNALARAS
Untuk memberikan layanan kepada anak tunalaras, Kauffman (1985) mengemukakan model-model pendekatan sebagai berikut :
1.      Model biogenetic
2.      Model behavioral
3.      Model psikodinamika
4.       Model ekologis

2.2 Metode Pembelajaran Yang Digunakan Dalam Proses Pembelajaran Pada SLB
A.      Metode Pengajaran Anak Tuna Netra
Pada ada anak tuna netra dapat digunakan beberapa metode yang digunakan ialah:
  1. Metode ceramah, metode ini dapat diterapkan kepada siswa tunanetra karena dalam pelaksanaan metode ini guru menyampaikan materi pelajaran dengan penjelasan lisan dan siswa mendengar penyampaian materi dari guru.
  2. Metode Tanya Jawab, metode ini dapat diterapkan kepada siswa tunanetra karena metode ini merupakan tambahan dari metode ceramah yang menggunakan indera pendengaran.
  3. Metode diskusi, metode ini dapat diterapkan kepada siswa tunanetra karena mereka dapat ikut berpartisipasi dalam kegiatan diskusi itu karena dalam metode diskusi kemampuan daya pikir siswa untuk memecahkan suatu persoalan lebih diutamakan. Dan metode ini bisa diikuti tanpa menggunakan indera penglihatan.
  4. Metode sorogan, metode ini dapat diterapkan kepada siswa tunanetra karena adanya bimbingan langsung dari guru kepada anak didik dan seorang guru dapat mengetahui langsung sejauh mana kemampuan anak didiknya dalam memahami suatu materi pelajaran.
B.       Metode Pengajaran Anak  Tuna Rungu
Metode pengajaran yang paing tepat untuk digunakan dalam pengajaran anak tuna rungu adalah TCL (teacher centered learning). Tuna rungu merupakan  anak-anak yang memiliki kekurangan mental apabila kita biarkan dan menyuruhnya belajar secara mandiri maka yang terjadi adalah anak tersebut akan bermain-main dengan temannya. Dengan pembelajaran yang berpusat pada guru maka murid yang memiliki kekurangan tadi dapat di bimbing oleh guru dalam melaksanankan pembelajaran di kelas. Selanjutnya guru tinggal focus pada perilaku murid, mengarahkan para murid. Yang dimaksud dengan mengarahkan adalah memberi pujian kepada anak yang melakukan suatu kebaikan dan melarang murid ketika dia melakukan sesuatu yang buruk.
C.    Metode Pengajaran Tuna Grahita
Untuk anak tuna grahita metode pengajaran yang dapat digunakan adalah metode ceramah oleh guru seperti pada tingkat Sekolah Dasar lainnya. Dalam hal ini guru menerangkan materi yang diajarkan. Setelah itu guru dapat melakukan tanya jawab dengan murid sehingga murid lebih mampu untuk mengerti apa yang diajarkan. Guru juga bisa menggunakan alat peraga untuk beberapa pelajaran agar anak lebih tertarik untuk belajar dan mampu untuk mengingat lebih baik materi pembelajarannya. Setiap minggunya juga dapat dibuat pelaporan kinerja sehingga guru dapat mengetahui perkembangan anak secara baik juga memberikan reward bagi anak yang berkembang dengan baik dan disiplin dalam kelas. Anak tuna grahita  mempunyai karakteristik sebagai berikut (Halahan dan Kauffman, 1994)  :
  1. Saat duduk di dalam kelas, masih harus didampingi guru.
  2. Diajarkan membedakan stimulus suara dan visual.
  3. Kemampuan berbahasa perlu dikembangkan.
  4. Dibimbing bagaimana bina diri.
  5. Dibimbing bagaimana berinteraksi dengan teman sebaya dalam situasi kelompok.
D.    Metode Pengajaran Tuna Daksa
Karakterisitik anak tuna daksa adalah anggota gerak tubuh tidak lengkap, bentuk anggota tubuh dan tulang belakang tidak normal, kemampuan gerak sendi terbatas, ada hambatan dalam melaksanakan aktifitas kehidupan sehari hari. Untuk anak tuna daksa metode pengajaran yang dapat digunakan adalah metode ceramah, diskusi berkelompok, praktek.
E.     Metode Pengajaran Tuna Laras
Tunalaras ialah gangguan atau hambatan atau kelainan tingkah laku sehingga kurang dapat menyesuaikan diri dengan baik terhadap lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat. Metode Pengajaran menggunakan Teacher Centered Learning (TCL) dikarenakan butuh control dari pengajar agar tidak terjadi kecelakaan akibat keterbatasan atau kekurangan pengendalian emosi.





BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A. Metode Penelitian Dan Alasan Penggunaan Metode
Metode penelitian merupakan suatu ilmu yang mempelajari tentang metode-metode penelitian, ilmu tentang alat-alat dalam penelitian. Untuk menunjang penulisan tesis ini, harus diperhatikan jenis penelitian apa yang sebaiknya digunakan serta teknik pengumpulan data dan teknik analisis data yang tepat untuk mendukung penulisan penelitian ini.
Adapun alasan penulis menggunakan metode kualitatif yakni ingin mendapat data secara alami (apa adanya) tentang “Pendekatan Psikologi Pendidikan dalam meningkatkan belajar dengan menggunakan metode pembelajaran di SLB Siborong-borong.” Disamping itu alasan lain mengapa penulis menggunakan metode ini adalah:
1.        Permasalahan dalam penelitian ini belum jelas, holistic dan kompleks, dinamis dan penuh makna sehingga tidak mungkin data pada penelitian ini dijaring dengan metode penelitian kuantitatif dengan instrument seperti test, kuesioner.
2.        Peneliti bermaksud memahami situasi SLB di Siborong-borong secara mendalam, dengan teknik wawancara.
Selain alasan di atas, alasan penggunaan metode kualitatif karena data penelitian yang akan dipaparkan dalam tesis ini dianalisis tidak menggunakan tehnik analisis statistic melainkan data dianalisis secara kualitatif.

B. Tempat Penelitian
Tempat penelitian untuk penelitian kualitatif atau penelitian naturalistic yang bermaksud mendapatkan data secara alamiah dapat terjadi di sekolah, perusahan, lembaga pemerintah, di jalan, rumah dan lain-lain. Dengan demikian, penelitian ini dilakukan di Siborong-borong. Alasan penulis melakukan penelitian di tempat ini supaya penulis dapat dengan mudah mengetahui pendekatan Psikologi Pendidikan di SLB Siborong-borong.
C. Sumber Data
Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif, maka penelitian ini menggunakan dua sumber data, yaitu data primer dan data sekunder. Sumber data primer adalah sumber data yang langsung memberikan data kepada pengumpul data. Sedangkan data sekunder merupakan sumber data yang tidak langsung memberikan data. Teknik pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
1.  Sumber data primerdidapat dari studi lapangan, yaitu proses pengumpulan informasi, data, dan fakta secara langsung pada objek penelitian, dengan cara:
a. Observasi, yaitu melakukan pengamatan secara langsung serta mencatat peristiwa, kejadian, pola belajar dan lingkungan bermain di SLB Siborong-borong.
b.Wawancara tertutup, yaitu pengumpulan data dengan cara membuat pertanyaan yang disertai dengan jawabannya, sehingga lebih memudahkan responden untuk menjawabnya.
2.  Sumber data sekunder didapat melalui Studi literatur/Kepustakaan, yaitu teknik pengumpulan data sekunder dengan mempelajari buku-buku atau bahan-bahan tertulis yang ada hubungannya dengan topik yang akan diteliti, termasuk data-data tertulis lainnya yang berasal dari lembaga yang dijadikan objek penelitian termasuk mempelajari dokumen-dokumen yang berhubungan topik permasalahan.
D. Teknik Pengumpulan Data
Penulis menyadari bahwa teknik pengumpulan data adalah hal yang paling penting dalam penelitian kualitatif. Maka dalam pengumpulan data-data dan informasi yang dibutuhkan adalah melalui studi kepustakaan yang bersifat deskriptif dimana data-data yang terkumpul merupakan kata-kata atau gambaran dan rekaman sehingga tidak menekankan pada angka-angka.
Teknik pengumpulan data dapat dilakukan dengan observasi, wawancara, dan dokumentasi. Penulis akan melakukan observasi terhadap masyarakat untuk melihat tingkah laku, kepribadian, kerajinan mengikuti pembelajaran, sikap dalam bermain serta kehidupan kerohaniannya. Adapun wawancara yang dilakukan penulis adalah wawancara terstruktur dengan jumlah soal sebanyak 20 soal. Responden tinggal memilih jawaban sesuai dengan pemahamannya.
E. Teknik Analisis Data
Langkah terakhir dalam metodologi penelitian adalah menganalisis data yang telah dikumpulkan. Analisis data kualitatif adalah upaya yang dilakukan dengan jalan bekerja dengan data, mengorganisasikan data, memilah-milahnya menjadi satuan yang dapat dikelola, mensistematiskannya, mencari dan menemukan pola, menemukan apa yang penting dan apa yang dipelajari, dan memutuskan apa yang dapat diceritakan kepada orang lain.
Mengingat bahwa dalam penelitian kualitatif tidak melakukan analisis data yang bersifat statistik, maka dalam menganalisis data yang telah dikumpulkan dalam penelitian ini dilakukan dengan mendeskripsikan data tersebut sebagaimana adanya sehingga hasilnya dapat diketahui dengan mudah. Data yang terkumpul dideskripsikan sedemikian rupa dan dicari maknanya sehingga bermanfaat bagi orang yang membacanya.



BAB IV
PENUTUP
4.1  Kesimpulan
Pendekatan adalah proses pembuatan, cara mendekati, usaha dalam rangka aktvitas untuk mengadakan hubungan dengan orang tertentu. Pendekatan juga dapat diartikan sebagai cara pandang atau paradigm yangb terdapat dalam suatu bidang ilmu. Psikologi merupakan ilmu pengetahuan mengenai jiwa yang diperoleh secara sistematis dengan menggunakan metode-metode ilmiah, sedangkan ilmu jiwa merupakan keseluruhan spekulasi jiwa secara umum. Disabilitas yaitu orang yang memiliki kekurangan atau keterbatasan fisik, intelektual maupun sensorik yang dialami dalam jangka waktu lama. Ketika penyandang disabilitas berhadapan dengan hambatan maka hal itu akan menyulitkan mereka dalam berpartisipasi penuh dan efektif dalam kehidupan bermasyarakat berdasarkan kesamaan hak.
Adapun jenis-jenis penyandang Sekolah Luar Biasa Tipe A (Tuna Netra), Sekolah Luar Biasa Tipe B (Tuna Rungu), Sekolah Luar biasa Tipe C (Tuna Grahita), Sekolah Luar Biasa Tipe D (Tuna Daksa), Sekolah Luar Biasa Tipe E (Tuna Laras). Akan tetapi pada SLB Sibrong-borong hanya terdapat beberapa penyandang disabilitas yaitu, Tipe B (Tuna Rungu), Tipe C (Tuna Grahita), Tipe D (Tuna Daksa), dan yang terkhusus yaitu Autis.

4.2  Saran
Melalui penelitian dan makalah pembahasan dari kami ini semoga dapat berguna bagi setiap pembaca, dan kami sebagai peneliti juga sadar masih banyak kekurangan kami dalam penelitian dan pembahasan ini. Kami berharap kepada setiap pembaca untuk dapat memberikan saran.
Daftar Pustaka
























Mulyasa, E..2006. Menjadi Kepala Sekolah Profesional. Bandung : Remaja Rosdakarya.







































Nawawi, H. Hadari. 1982. Organisasi Sekolah Dan Pengelolaan Kelas. Jakarta : Gunung Agung.


















Pidarta, Made. 2004. Manajemen Pendidikan Indonesia. Jakarta : Rineka Cipta.

Ronny Kountur. 2007. Metode Penelitian Untuk Penulisan Skripsi Dan Tesis. Jakarta : PPM
Lexy J. Moleong. 2007. Metode Penelitian Kualitatif.  Bandung: PT. Remaja Rosdakarya



Lampiran 1: Foto Dokumentasi
Foto Dokumentasi di SLB Siborong-borong
Description: C:\Users\Nori\AppData\Local\Microsoft\Windows\Temporary Internet Files\Content.Word\D87B542D-88C8-4D4E-B497-54346B675950.jpgDescription: C:\Users\Nori\AppData\Local\Microsoft\Windows\Temporary Internet Files\Content.Word\769F42C6-3750-4C2E-809F-1C54D3E887FC.JPG
Description: C:\Users\Nori\AppData\Local\Microsoft\Windows\Temporary Internet Files\Content.Word\Screen_20181212_052041.pngDescription: C:\Users\Nori\AppData\Local\Microsoft\Windows\Temporary Internet Files\Content.Word\Screen_20181212_052131.png
Description: C:\Users\Nori\AppData\Local\Microsoft\Windows\Temporary Internet Files\Content.Word\08937162-46E1-4026-ADB5-9E8C5D6A788A.JPGDescription: C:\Users\Nori\AppData\Local\Microsoft\Windows\Temporary Internet Files\Content.Word\879B20D9-B20A-4781-BE8E-A7DBD46E7E27.jpg
Description: C:\Users\Nori\AppData\Local\Microsoft\Windows\Temporary Internet Files\Content.Word\C18636CF-AC7E-44B4-A625-2B065F2F130D.JPGDescription: C:\Users\Nori\AppData\Local\Microsoft\Windows\Temporary Internet Files\Content.Word\14E186EC-E65B-4547-A18D-6EA7E8DB57D3.jpg
Lampiran 2. Transkip Wawancara
Transkip Wawancara dengan  Narasumber
Nama               : Ibu Dia Purba
Pekerjaan         : Kepala Sekolah
Hari/Tanggal   : Jum’at/ 30 November 2018
Tempat            : SLB Siborong-borong
Agama             : Kristen
Suku                : Batak
Status              : Kawin
Waktu             : Pukul 09.45 Wib - Selesai
Peneliti turun kelapangan untuk mengobservasi sekaligus mewawancarai seorang kepala sekolah tepatnya di SLB siborong-borong dengan mengajukan beberapa pertanyaan mengenai “pendekatan psikologi pendidikan dalam meningkatkan pembelajaran dengan menggunakan metode pembelajaran di SLB Siborong-borong”, sebagai berikut:
P          : syalom bu
N         : iya, syalom
P          : kami dari IAKN Tarutung Ibu, ingin melakukan observasi dari salah satu mata kuliah yaitu psikologi pendidikan, ingin melakukan pendekatan psikologi dan ingin mengetahui bagaimana metode pembelajaran di SLB ini Bu.
N         : iya, silahkan. Karena sudah banyak juga teman-teman kalian atau kakak tingkat yang sudah melakukan hal ini. Saya absen dulu! Sahat Berutu, Neni indah wati, Widia wati Silitonga, Norita Sihombing, Merlina Banjarnahor, dan Ester nababan. (peneliti mengangkat tangan masing-masing menandakan hadir). Iya, kita tahu bahwasanya anak-anak tidak suka dipanggil cacat. Tetapi mereka adalah anak yang berkebutuhan khusus. Nah, biasanya disebut disabilitas atau difabel. Penyandang disabilitas ini memiliki beberapa tipe yaitu : tuna netra (kelas A), tuna rungu yaitu gangguan pendengaran dan pembicaraan  (kelas B), tuna grahita yaitu IQ lemah (kelas C), tuna daksa yaitu gangguan fisik (kelas D), dan satu lagi autis yaitu gangguan komunikasi. Apalagi yang mau kalian tanya? 
P          : sebelumnya kami minta maaf Bu, mengganggu waktu Ibu sebentar. Kita tau kan Bu bahwasanya mengajar di SLB itu sangat sulit, jadi kami mempunyai beberapa pertanyaan Bu. Ini merupakan salah satu mata kuliah yaitu Psikologi Pendidikn dan pengampunya adalah Bapak Andrianus Nababan. Pertanyaan kami yang pertama Bu, bagaimana kemajuaan dari SLB dalam proses pembelajaran Bu?
N         : begini, perkembangan pembelajaran itu disesuaikan dengan ketunaannya dan kelasnya. Di sini ada tingkatannya juga ada SD, SMP dan SMA. Jadi, yang pasti dia berubah dari yang masuk setelah satu tahun menjalani. Sama seperti kita dan sekolah-sekolah lainnya pasti berubah namun tidak pasti berubah total dan perubahannya kearah yang baikp       
P          : pertanyaan yang ke dua Bu, bagaimana keaktifan guru dalam proses pengajaran di sekolah ini Bu?
N         : keaktifan, semua guru aktif dalam mengajar
P          : pertanyaan selanjutnya Bu, apa saja metode-metode yang digunakan dalam proses pembelajaran?
N         : metodenya, di sekolah ini memakai kurikulum 2013 dan metode pembelajarannya sesuai dengan ketunaanya dan kebutuhannya. Tetapi memang lebih dominan memakai video dan alat bantu serta alat peraga seperti itu.
P          : pertanyaan Berikutnya Bu bagaimana respon anak didik terhadap materi yang di ajarkan Bu?
N         : responnya, sama seperti orang normal jika dia memiliki kekuranggan, seperti jika minat mereka kurang dalam materi pembelajaran itu, maka mereka akan mencari kesibukan sendiri. Bahkan ada yang memiliki minat yang bagus pada proses pembelajaran maka ia akan belajar sambil bernyanyi-nyanyi begitu ada pembelajaran yang sukar untuk di pahaminya ia sesuai dengan ketunaannya mereka ada yang marah, nangis-nangis,ada yang tidur dan lain sebagainnya.
P          : pertanyaan yang berikutnya kan Bu, seperti apa interaksi yang terjadi antara guru dan anak didik saat proses pembelajaran berlangsung?
N         : sesuai ketunaannya seperti tuna Rungu di pastikan dulu moodnya bagus supaya kita dapat berinteraksi karena kalau mengajar disini harus dengan hati
P          : tapi apakah ada Bu kesulitan yang kita hadapi saat berinteraksi?
N         : sulit, maka target kita tak selalu dapat tercapai dalam proses pembelajaran. Contoh, anaka tuna grahita 1-5 gak ingat maka indicator pencapaian keberhasilan tadi harus kita perediksikan sampai diman. Dan kita harus memiliki target.
P          : terus Bu, bagaimana interaksi anak didik terhadap lingkungannya di sekolah?
N         : begini, tergantung tingkat pendidikannya, kalau tingkat pendidikannya sudah kelas 5 SD ke atas sudah perduli dengan kebersihan cotohnya membuang sampah, menyapu ruangan dan menyambut tamu.
P          : lalu Bu, bagaimana reaksi anak didik ketika guru mengajar dengan menggunaka media elektronik seperti yang ibu bilang tadi yaitu video dan alat peraga?
N         : reaksinya pasti senang dan itu tergantung dengan ketunaannya. Kalau dia autisem dia langsung merampas, kalau itu hampon makanya hampon gurun sering rusak jika dilihat oleh autism.
P          : bagaimana guru mengetahui kemajuan pola pikir anak didik tersebut?
N         : karena setiap hari berinteraki, maka mereka akan atau c0ntonya dengan memberikan materi menulis huruf dia sudah berminat dan hari selanjutnya dia menulis kata, dan hari berikutnya dia dapat menulis kalimat.
P          : dari proses pembelajaran kan Bu ada metode pembelajaran tadi yang digunakan dari setiap metode pembelajaran yang digunakan guru, metode apakah yang menurut ibu anak didik langsung dapat memahami materi dan dapat beraksi dengan cepat antara dia bisa tau, dan merespon dengan cepat?
N         : sepertinya menonton, ketika menonton video mereka langsung tertarik tetapi, setelah menonton itu karena daya ingat mereka lemah maka mereka akan lupa.
P          : kami juga ingintau Bu bagaimana, bagaimana kedisiplinan siswa pada saat guru menerangkan atau menanyangnkan video pembelajaran?
N         : sesama mereka tentu akan mengganggu dan kadang-kadang jika mereka mengantuk mereka akan tidur dan guru akan membiarkannya jika tidak mereka akan menangis.
P          : bagaimanakaha interaksi antar sesame mereka Bu apakah ada dampak negative dan positifnya?
N         : kalu tuna rungu, berdampak positif karena tuna rungu hanya tidak bisa mendengar dan tidak bisa berbicara tapi hati mereka nyambung. Kalau misalnya autis karena gangguan komunikasi ia menginginkan sesuatu maka ia akan menangis, merampas, dan bisa juga melempar. Karena ia tidak bisa mengkomunikasikannya. Makanya bahaya jika kita memakai rok maka tiba-tiba akan di angkatnya karena dia memiliki rasa penasaran.
P          : pertanyaan selanjutnya Bu apa saja busaya yang di terapkan di sekolah ini Bu seperti senyum sapa salam?
N         : itu satu paket sudah kami lakukan. Misalnya, halo, apa kabar anak kusayang,
P          : oke Bu pertanyaan selanjutnya apakah ada penghargaan yang di berikan pihak sekolah kepada anak didik yang berprestasi?
N         : ada, bahkan dari pemerintah juga ada bahkan anak didik kita, kita ikutkan lomba seperti disains grafik, pantomime dan lain sebagainya itu ada hadiah berupa piagam, piala, dan uang. Dan kita juga harus memberi motifasi yang banyak kepada anak didik kita.
P          : selanjutnya kan Bu, bagaimana seorang guru memberikan penilaian terhadap tugas-tugas anak didik?
N         : melalu indicator pencapaian seperti kita mengajarkan duduk, diam dan melipat tangan dan anak itu dapat melakukannya dan itu menurut saya brhasil.
P          : lalu Bu, apa saja kendala yang dihadapi guru dalam proses pembelajaran?
N         : kendalanya hanya ketika mood anak itu sedang tidak bagus dan itu memang masih dapat teratasi.
P          : selanjutnya Bu, apakah anak didik memiliki kelebihan dalam bidang-bidang tertentu?
N         : iya, misalnya menjahit melalui hasil jaitannya ada juga hasil kiria kayu membuat telenan atau sakkalan selain itu membuat aksesoris sehinnga mereka ada dua kemampuan, mampu didik dan mampu latih.
P          : baik selanjutnya Bu, mata pelajaran apa yang terdapat dalam sekolah ini Bu?
N         : sama seperti umum mata pelajarannya hanya saja ada tambahan kalau tuna rungu ada bina bicara, kalau tuna grahita ada program bina diri
P          : petanyaan selanjutnya kan Bu, apakah jenjang SLB ini Bu di setarakan dengan jenjang sekolah pada umumnya?
N         : sama dengan sekolah umum, mereka mengikuti UN dan itu di laksanakan dengan kertas pensil
P          :  apakah anak didik dari SLB ini Bu pernah mengikuti lomba-lomba bahkan membawa nama sekolah?
N         : iya, memang SLB ini sering mengadakan lomba-lomba seperti lomba lari O2SN FLS2N (festifal lomba seni siswa nasional) dan lomba sains. Ada lagi pertanyaannya?
P          :Sudah cukup Bu sudah  20 Pertanyaan.  Terima kasih Bu, buat waktu dan kesempatannya untuk kami wawancarai tentang SLB ini.
N         : Iya. Semoga sukses Kuliah ya nak.
Salam-salam & Sesi Foto Bersama

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rencana Pembelajaran Semester Pengembagan Kurikulum PAK II

Profesionalisme Guru Pendidikan Agama Kristen (PAK)