Pendidik Yang Sejati Ialah Rela Mempersembahkan Hidupnya ROMA 12:1-3
Pendidik
Yang Sejati Ialah Rela Mempersembahkan Hidupnya
ROMA
12:1-3
Menjadi seorang pendidik sejati bukanlah perkara yang mudah seperti membalikkan telapak tangan. Sungguh miris, akhir-akhir ini banyak terjadi kasus tantangan anak didik yaitu stres menghadapi tugas dan merasa beban dalam mengikuti perkuliahan atau pembelajaran sehingga berdampak yang sangat memalukan, yaitu prostitusi online, kasus tewasnya mahasiswi yang melahirkan di kamar kos yang diakibatkan stress mengahadapi tugas dan skripsi, serta kasus pembunuhan guru, dosen, mahasiswa dan pemerkosaan. Tidak hanya itu, demi supaya trending seorang anak rela foto dan video membuat yang kontroversi yaitu seorang anak rela mengugah memukul orang tua dan sebaliknya orangtua yang memukul anak. Dalam kasus seperti ini, banyak yang menyalahkan kecanggihan teknologi, tapi sebenarnya justru salah dalam menggunakan teknologi. Jika ditelusuri, akar masalah semua ini akibat kurangnya didikan yang sejati baik karakter, moral generasi muda Indonesia. Seorang pendidik sejati yang sayang kepada peserta didiknya, tidak akan mengabaikan dan membiarkan peserta didiknya bersenang-senang dengan kebisaan buruknya.
Pendidik sejati adalah orang yang
mampu membuat hal yang sulit bahkan masalah menjadi mudah atau solusi, hal yang
rumit menjadi lebih sederhana dan mampu nasihat dengan mendorong diri peserta
didik dengan meneladankan sifat dan sikap positif ditengah-tengah mereka.
Menjadi evaluasi bagi diri pribadi kita, siapakah sajakah yang dikatatakan
pendidik? apakah selama ini diri kita sudah menjadi pendidik sejati? Sudahkah
kita pendidik yang mempersembahkan hidup? Dan bagaimanakah menjadi pendidik
sejati yang memberikan hidup? pertanyaan ini yang sering menggelayut di benak
kita. Apakah mereka puas dengan model pembelajaran yang saya berikan. Ada
kekhawatiran dihati saya, ah, jangan-jangan mereka tidak puas dengan didikan
yang saya berikan, jangan-jangan mereka sulit memahami penjelasan yang saya
sampaikan. Sehingga Seperti apakah wujud
praktis seorang pendidik yang persembahan hidupnya? Roma 12:2 menjelaskannya.
Kita hidup sebagai persembahan bagi Allah dengan tidak menyesuaikan diri pada
nilai-nilai duniawi. Istilah dunia telah dibahas di dalam 1 Yohanes 2:15-16 sebagai
keinginan kedagingan, keinginan mata, dan keangkuhan hidup. Semua yang
ditawarkan oleh dunia dapat disederhanakan ke dalam tiga kategori tersebut.
Keinginan daging melibatkan segala sesuatu yang membangkitkan selera dan
meliputi keinginan makan, minum, hubungan seksual, dan segala sesuatu yang
menyenangkan tubuh kita dengan berlebihan. Keinginan mata melibatkan
materialisme, mengingini sesuatu yang tidak kita miliki, dan bersikap iri hati
terhadap mereka yang mempunyai apa yang kita dambakan. Keangkuhan hidup
diartikan sebagai ambisi yang membuat kita dan mengandalkan ilmu kita.
Siapa sajakah yang dikatatakan pendidik??
Orangtua
Pada dasarnya manusia
yang sudah dewasa akan menjadi orang tua. Lingkungan pertama bagi anak untuk mendapatkan pendidikan ialah
orang tua. Sehingga orang tua adalah pendidik utama bagi anak-anaknya untuk
menyampaikan pendidikan yang diterima anak dalam lingkungan keluarga sangat
penting bagi masa depan anak itu sendiri, karena akan menentukan sifat dan karakter anak pada masa yang akan datang.
keterlibatan orang tua pada pendidikan
sangat penting, hal ini terbukti dari banyaknya dampak positif bagi
anak. Dalam keluargalah anak dipersiapkan untuk membangun pengetahuan tentang
perkembangan sebelum memasuki
tingkatan-tingkatan perkembangannya dunia dengan pengetahuan ajaran agama,
bahasa, adat istiadat, moral dan kebudayaan sosial bermasyarakat. Di samping
keluarga, masyarakatpun menjadi tempat pendidikan yang pertama bagi anak. Keluarga merupakan pendidikan yang pertama yang
membangun kreatifitas anak itu sendiri, jika sejak kecil anak kurang mendapat
pendidikan dari keluarga, akan timbul
berbagai dampak negatif bagi anak seperti
kesulitan beradaptasi dengan lingkungan sosial, pada saat memasuki
bangku sekolah anak akan mengalami kesulitan untuk menerima pelajaran karena
kurangnya perhatian yang diberikan oleh orang tua. Karena itulah orang tua
dituntut untuk memberikan pendidikan
sedini bagi anak, mungkin saat
anak sudah mulai beradaptasi dengan dunia luar anak tidak akan mudah terbawa
kedalam hal-hal negatif yang banyak
terjadi dilingkungan sosial, namun demikian masih banyak juga keluarga yang
tidak terlalu memikirkan pendidikan bagi anak-anaknya, sehingga tidak sedikit
orang tua yang melalaikan tanggung jawab mereka untuk memberikan pendidikan dan
pengetahuan sedini mungkin kepada anak, dalam hal ini banyak faktor yang
membuat orang tua melalaikan tanggung jawab mereka untuk memberikan pendidikan
dan pengetahuan pada anak. Tidak bisa disangkal bahwa orang tua memiliki tanggung
jawab yang besar agar anak-anaknya memiliki sikap yang baik dan benar. Idealnya
orang tua harus berusaha secara optimal agar anak-anaknya sungguh-sungguh
memiliki budi pekerti, tetapi fakta menunjukkkan sebaliknya. Orang tua tidak
selalu menjadi pendidik bagi anak-anaknya
Guru dan Dosen
Seorang guru dan dosen
harus mengajar membagi dua waktu. Satu jam menjelaskan materi pelajaran dan
satu jam memotivasi siswa menjadi generasi petarung masa depan. Metode ini kita
lakukan lakukan karena siswa tidak sekadar hanya butuh seorang guru/ dosen
untuk memandu melakukan kajian-kajian ilmiah, tetapi membutuhkan seorang
inspirator yang bisa menginspirasi. Peserta didik tidak sekadar membutuhkan
dosen untuk mengajarkan teori-teori ilmiah, tetapi seorang pembimbing yang bisa
diajak berdialog bagaimana menaklukkan gelombang kehidupan. Lima puluh persen
perkembangan anak didik akan tergantung pada kualitas lingkungan
akademisnya, khususnya pada kepribadian
dan kemampuan gurunya.
Menyelesaikan persoalan
masa depan tidak hanya membutuhkan rumus-rumus ilmiah, tetapi membutuhkan kemampuan dan kecerdasan
menggali segala potensi diri. Karena itu seorang guru di setiap tingkatan
institusi guruan harus memiliki kemampuan menggerakkan. Kekuatan memprakarsai
atau menghasilkan gerakan. John Adair,
profesor pertama di dunia dalam Leadership
Studies mengatakan, “Seorang guru yang hebat adalah memiliki kekuatan
antusiasme yang memacu, menghidupkan, dan menginspirasi, meskipun
pelajaran-pelajaran yang diberikannya mungkin dilupakan.” Pendapat John Adair
ini mengisyaratkan bahwa sejatinya guru sejati itu tidak ditentukan oleh
penampilannya yang terkesan ilmuwan tetapi tidak mampu menjabarkan ilmu-ilmunya
untuk menginspirasi dan menggerakkan anak didiknya melakukan restorasi dalam
dirinya.
Jadi guru dan dosen
adalah tidak sekadar mentransfer teori-teori ilmu pengetahuan kepada anak
didiknya, tidak hanya mengkomunikasikan konsep-konsep ilmiah kepada peserta
didiknya, tetapi lebih dari itu esensi dari tugas seorang guru sejati adalah
“Meyakinkan dirinya dan meyakinkan seluruh anak didiknya bahwa setelah
mengikuti pelajarannya akan menjadi orang sukses.” Seorang guru sejati
sebaiknya memahami ungkapan ini, “Jangan menjual ikan di tengah penjual ikan,
jangan menjual sayur di tengah penjual sayur, tetapi jual lah ikan di tengah
penjual sayur, atau jual lah sayur di tengah penjual ikan.” Maksudnya jangan
bertanya lagi satu tambah satu kepada siswa karena pasti diabaikan. Seorang guru
harus tampil dengan konsep-konsep atau bahan-bahan pembelajaran yang baru untuk
terus menambah wawasan anak didiknya. Jangan memberitahukan anak didiknya
sesuatu yang kemungkinannya mereka sudah tahu. Setiap mengajar harus ada
sesuatu yang baru diberikan kepada anak didiknya yang berkaitan dengan proses
menata masa depannya. Setiap guru harus menemukan hal-hal baru untuk diajarkan
kepada siswa/Mahasiswa.
Tugas guru/dosen adalah
menjadikan anak didik cerdas dalam matra kognitif, afektif dan psikomotorik.
Matra kognitif maksudnya menjadikan peserta didik cerdas intelektualnya, matra afektif menjadikan anak didik memiliki
sikap dan perilaku yang sopan, dan matra psikomotorik menjadikan siswa terampil
dalam melaksanakan aktivitas secara efektif dan efesien, serta tepat guna. Dengan demikian, guru
senantiasa dihadapkan pada peningkatan kualitas pribadi dan sosialnya. Sehingga
bisa melahirkan peserta didik yang berbudi luhur, memiliki karakter sosial dan
profesionalisme.
Menjadi guru/dosen yang
sejati sejati, perlu memahami metode/strategi dan model pembelajaran serta
menghindari hafalan yang tidak memahami sesuatu yang dapat dibuktikan melalui
panca indera dan bahasa pelajaran yang dihafalkan anak didik. Karena menghafal
dengan cara demikian ini akan menghambat kemampuan memahami. Tuhan Yesus
mempunyai 12 murid, yang selalu menyertaiNya. Dalam mengajar Tuhan Yesus
kerapkali mempergunakan perumpamaan-perumpamaan. Perumpamaan ialah seperti
sebuah cerita yang diambil dari kehidupan sehari-hari dengan maksud menerangkan
perkara rohani.[44] Misalnya: Si anak hilang (Luk.15:11-31); domba yang hilang
dan dirham yang hilang (Luk.15:1-10); penabur (Mat.13:1-23); sesama manusia
(Luk.10:25-37); talenta (Mat.25:14-30). Strategi pengajaran Tuhan Yesus
mengenai kepribadian Tuhan Yesus dalam pengajaranNya, Yesus mempunyai
aspek-aspek yang patut untuk kita teladani dan terapkan dalam proses
pembelajaran, aspek-aspek pengajaran Yesus, seperti: bahan susunan, tujuan
serta metodeNya. Aspek ini dapat dijadikan sebagai perbandingan atau menjadi
teladan bagi guru/pendidik.
Bagaimanakah
menjadi guru sejati yang mempersembahkan hidupnya?
Teologi Paulus membuka
rahasia tentang mempesembahkan hidup, dan menguraikan tentang menguraikan
tentang karunia. Dalam hal ini Paulus menyampaikan mengenai bagaimana mempersembahkan
hidup dalam teks.
1.Guru
suatu kemurahan Allah
Kemurahan,’’oiktirmon’’
(οἰκτιρμῶν), berarti belas kasihan: kemurahan Allah dinyatakan dalam hidup kita
(2 kor 1:3; Flp. 2:1; Kol. 3:12; Ibr. 10:28). Nats ini menghubungkan dia tôn
oiktirmôn (demi kemurahan) bukan dengan “aku nasihatkan” melainkan dengan “mempersembahkan’. Demikian
seorang pendidik harus senantiasa menghampiri Allah yang penuh kasih dan
kemurahan itu dengan hati yang melimpah dengan syukur. Allah menawarkan dan
memberikan kasih karunia itu dengan gracious kepada kita dan dengan rendah hati
dan dengan iman kita menerima grace itu. Karena Tuhan, kita menjadi berkat dan
mengingatkan kita sekali lagi untuk menghargai betapa besar anugerah
keselamatan yang kita terima di dalam Yesus Kristus. Bersyukur untuk firman
Tuhan yang sekali lagi diingatkan, sebab seringkali kita terima kasih karunia
dan berkat Tuhan dengan take it for
granted. Guru sering tidak menghargai dan menjadikan setiap pemberian Tuhan
itu sebagai sesuatu hal yang mahal dan tidak layak kita terima di dalam hidup.
Kiranya Tuhan melimpahkan dengan hati yang grateful,
bersyukur dan berterima kasih atas setiap anugerah dan berkat yang kita dapat
dari Tuhan.
2. Memeberikan Nasihat
Menasehatkan, “parakalo’’(Παρακαλῶ),
berarti dipanggil untuk memberi nasihat, dorongan, pengarahan, petunjuk.
Mengemban tugas sebagai guru bukanlah hal yang mudah, begitu banyak hambatan
dan tantangan yang harus dihadapi. Demikian juga halnya dengan orangtua dan
guru/dosen untuk mencapai tujuan anak yang memiliki kepribadian, maka pengajarannya dituntut untuk meniru
meneladani sosok Yesus sebagai Guru Agung.
Seorang guru harus senantiasa memandang Yesus sebagai sumber pengajaran
Kristen karena Yesus sudah memberi teladan melalui seluruh kehidupan-Nya.
Setiap guru harus memberikan nasihat kepada anak didik dengan berlandaskan
kebenaran Firman Tuhan supaya misi Allah tercapai yaitu untuk menyelamatkan
umat manusia. Seorang guru harus memiliki tujuan yang jelas dalam mengajar
serta memiliki hubungan yang dekat dengan murid-murid sehingga dapat mengenal
karakter murid-murid dengan baik. Guru senantiasa mendorong, mengarahkan dan
memberikan petunjuk dengan menggunakan metode yang menarik dalam menyampaikan
Firman Tuhan, sehingga mendorong murid-murid untuk ingin lebih tahu kebenaran
Firman Tuhan. Guru harus terus mengajarkan kebenaran dan memiliki komitmen dalam mengajar,
meskipun dengan fasilitas yang tidak memadai.
3. Mempersembahkan Tubuh
Mempersembahkan,’’parastesai’’
(παραστῆσαι), berarti mempersembahkan seperti para imam yang mengadakan
persembahan di bait Allah setiap hari pada waktu pagi hari dan petang (Luk
2:22; Rm. 6:19). Tubuhmu berarti bukan tubuh yang lama, bukan tubuh yang
berdosa, tetapi tubuh kita yang sekarang dan sudah dibeli dengan darah Yesus.
Tubuh sekarang yang telah menjadi bait Allah, yang berjalan dalam hidup yang
baru. Inilah yang dipersembahkan kepada Allah ( 1 Kor. 6:13, 19-20; Rm. 6:13; 1
Ptr. 1:18-19). Yang harus dipersembahkan
kepada Allah ialah tubuhmu. Yang dimaksud tentu bukan bahwa orang percaya harus
menyerahkan tubuhnya untuk dibunuh, sebagaimana kadang-kadang terjadi dalam
lingkungan agama lain. Bukan juga bahwa mereka wajib menyiksa diri supaya
bertambah suci (bnd. 10:6-8). Atau bahawa mereka, pada masa gereja mengalami
penindasan dari pihak pemerintahan,
harus mengadukan diri kepada pihak berwajib sebagai orang Kristen agar dengan
demikian memperoleh kedudukan martir.
Dalam tafsiran 6:12 dicatat bahwa ‘tubuh’ kita adalah kehadiran kita di tengah
dunia ini pikiran, perkataan, dan perbuatan kita yang semuanya terjadi dan terungkap lewat beberapa bagian tubuh kita. Dengan
demikian seorang guru harus mampu memberikan pikiran yang jernih, perkataan
yang membangun dan menjadi teladan dalam perbuatan didalam mendidik anak untuk
meraih masa depan yang cemerlang dan penerus yang sejati.
4. Persembahan Yang Hidup
Perkataan ‘hidup’ dipakai
di sini dengan arti yang sama seperti
misalnya 6:4 ‘yang hidup dalam hidup yang baru, hidup yang baru itu
dibangkitkan oleh Roh Kudus ( 8:11). Orang percaya hidup bagi Allah, mereka ‘telah
mati bagi dosa’, (6:11). Jadi, ‘persembahan yang hidup’ adalah penyerahan diri
kita untuk menempuh kehidupan baru, yang menjahui dosa dan menentang kuasa dosa
itu. Persembahan itu disebut juga kudus. Dengan demikian diungkapkan bahwa ‘tubuh’
artinya kehidupan. Kalau misalnya dalam PL orang makan daging persembahan (bnd
mis. Im.10:12), orang tidak menganggap daging itu sebagai miliknya sendiri.
Sebaliknya, perjamuan itu merupakan persekutuan dengan Tuhan, sedangkan manusia
seakan menjadi tamuNya. Maka kalau orang percaya’ mempersembahkan tubuhnya’
kepada Allah hal itu berarti bahwa seluruh kehidupan kita adalah milik Tuhan.
Dalam dunia guruan ini
seorang Guru harus mampu mengkondisikan diri dari nilai-nilai duniawi. Terlebih hal-hal yang
ditawarkan oleh dunia baik Keinginan daging, meliputi keinginan makan, minum,
hubungan seksual, dan segala sesuatu yang menyenangkan tubuh dengan berlebihan.
Terlebih Keinginan mata melibatkan materialisme yang membuat cinta uang,
padahal kita mengetahui cinta uang adalah akar dari segala kejahatan (1 Tim
6:10) yang membuat ada uang mau mendidik atau membimbing. Mengingini sesuatu
yang tidak kita miliki, dan bersikap iri hati melihat yang yang dimiliki orang dan
keangkuhan hidup yang membuat meninggikakan yang kita miliki baik harta, guruan,
jabatan dan rupa. Hal tersebut adalah guru yang salah di mata Tuhan yang tidak
memberikan hidupnya diatur oleh Tuhan.
5. Ibadah Yang Sejati
Ibadah,’’latreian’’
(λατρείαν ), berarti pelayanan, ibadah penyembahan (Rm. 9:4; Ibr. 9:1,6; Kel.
12:25-26; Yos 22:27). Sejati,’’logiken’’ (λογικὴν ), berarti yang layak, yang
pantas, yang masuk akal, yang rasional, yang rohani (Rm. 12:1; 1Ptr. 2:2),
(Ibrahim, 2011). Paulus menulis: itu adalah ibadahmu yang sejati. Arti seluas
itu juga dimiliki istilah Ibrani yang dalam PL berbahasa Yunani diterjemahkan
dengan latreia, yaitu abodah (yang serumpun dengan Arab/ Indonesia= ibadah).
Maka apa yang dikatakan Paulus disini berakar dalam perjanjian Lama. Di sana
pun ibadah dalam arti khusus (ibadah dalam Bait Allah) tidak dapat dilepaskan
dari ‘ ibadah’ dalam arti umum ( ketaatan dalam seluruh kehidupan). Demikian
hal nya dari sudut bahasa ‘abodah serumpun dengan abad’, mengabdi. Demikian
pula dari sudut isinya: dalam hukum taurat dan kitab-kitab para nabi ibadah
dalam Bait Allah merupakan titik pusat ibadah dalam arti umum, yaitu ketaatan
pada perintah-perintah Tuhan dan pengabdian kepadaNya. Dalam Perjanjian Baru
ibadah dalam Bait Allah tidak ada lagi. Yang tinggal justru ketaatan dan
pengabdian itu. Itulah ‘persembahan
hidup dan kudus yang dipersembahkan orang percaya. Guru harus memahami
bahwa dengan ibadah sejati berarti ia mengabdikan diri kepada Allah yang
teraplikasi dalam sikap tunduk, hormat dan kasih kita kepada Tuhan, maka
dimanapun dan kapanpun kita tetap dalam mendidik dengan setulus hati sebab
dimanapun, kapanpun dan dalam siatuasi apapun hidup guru tetap milik Tuhan
karena telah dipersembahkan kepada Tuhan. Oleh sebab itu, guru harus menjaga
hidupnya terus untuk tetap mempermuliakan Tuhan dimanapun, kapanpun dan dalam
situasi apapun, sehingga kita dapat menjadi garam dan terang dunia.
6. Pembaharuan Budimu
Kunci dari perubahan
adalah pada pikiran. Pikiran,’’noos’’ (νοὸς), berarti pengatur pusat untuk
sikap, parasaan, dan tindakan (Ef. 4:22-23). Perubahan pikiran ini hanya dapat
terjadi oleh firman Allah, Roh Kudus, doa dan persekutuan orang-orang percaya
dengan Tuhan (Mzr.1:1-2; Rm. 8:5-6). Sasaran atau tujuan pembaharuan ini adalah
kita mempunyai pikiran Kristus (1 Kor 2:16) sehingga dapat membedakan mana
kehendak Allah.
Membedakan,’’dokimazein’’ (δοκιμάζειν), berarti dibuktikan dengan diuji,
menguji apakah itu kehendak Allah (1 kor 3:13; 1Ptr.1:7). Hal yang baik, yang
berkenan kepada Allah, dan yang sempurna. Maka ilmu yang dimiliki seorang guru
bukan untuk kekuasaan atau kesombongan, seorang guru harus mampuh mengubah
kebiasaan buruk anda, niatkan dan mulailah melangkah. Biarlah Roh Kudus akan
menolong dan menguatkan Tuhan senantiasa memberikan kekuatan bagi orang terus
menerus memperbaharui diri, kuat dan berkuasa meninggalkan kebiasan buruk dan
bergegas melakukan yang baik dan
berkenan di hadapan Allah. Dengan pembaharuan budi akan menuntun guru mampu
membedakan mana yang baik dan yang berkenan kepada Allah.
7. Karunia
Paulus dengan
sungguh-sungguh mengatakan, bahwa karunia apapun yang menusia miliki, berasal
dari Allah. Ia menyebut karunia itu charisma yaitu karisma. Di dalam Perjanjian Baru, charisma
adalah sesuatu yang diberikan Allah kepada manusia yang ia sendiri tidak mampu
memperoleh atu mencapainya dengan kekuatan sendiri. Kenyataannya, kehidupan
memang seperti itu. Orang mungkin bekerja keras seumur hidupnya dan tetap tidak
terampil dalam menggunakan peralatan kayu maupun logam; orang lain dapat
mencipta dari kayu dan mencetak logam dengan keterampilan khusus, dimana
alat-alat itu menjadi bagian dari dirinya sendiri; ia mempunyai suatu
kelebihan, yaitu charisma, yang adalah karunia Allah. Demikian seorang pendidik
Kristen memiliki karunia dalam melaksanakan pekerjaan Tuhan menurut cara Tuhan.
Oleh sebab itu seorang guru harus yakin akan adanya perlengkapan yang Tuhan
berikan. Sebagaimana tidak dengan sendirinya menemui rencana keselamatan Allah,
begitu pula tidak dengan sendirinya menggunakan cara-cara ilahi. Pendidik
Kristen adalah memberikan ilmu pengetahuan tentang agama Kristen yang
berdasarkan Alkitab, berpusat pada Yesus Kristus, dan bergantung pada Roh Kudus
kepada peserta didik dalam kegiatan belajar- mengajar, agar para peserta didik
dapat mengenal Allah dan kasih-Nya yang dilakukan dalam bentuk pengajaran. Pendidik
Kristen menjadikan segala bangsa itu murid Tuhan. Kecerdasan dan kerohanian
sanggup mengerti ajaran-Nya. Semua lapisan masyarakat tertarik kepada
ajaran-Nya, karena Ia menerapkan Firman Allah pada masalah- masalah mereka yang
beranekaragam. guru harus turut merasakan Kristus untuk mencapai manusia dengan
menyatakan kasih Allah. Motivasi Yesus untuk mengajar itu sederhana tapi juga
dalam. Ia menunjukkan bahwa kasih Allah selalu melampaui segala sesuatu.
Sasaran terutama tiap-tiap orang Kristen, entah ia mempunyai pelayanan sebagai
pengajar entah tidak, ialah menjadi saluran kasih karunia Allah.
.

Komentar
Posting Komentar